KUDUS, Kaifanews — Musim hujan yang kerap disertai banjir membawa ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Air banjir bukan sekadar genangan biasa, melainkan campuran dari berbagai sumber kotoran yang berpotensi menjadi media penularan penyakit. Hal ini diingatkan oleh dr Lia Laras Wati, dokter umum Klinik Pratama Muhammadiyah Asy-Syifa’ Kudus.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Menurut dr Lia, air banjir umumnya berasal dari got, selokan, kamar mandi, hingga bercampur dengan kotoran kandang bahkan limbah WC. Kondisi tersebut membuat air banjir sarat bakteri dan virus yang berbahaya bagi tubuh manusia, terutama ketika bersentuhan langsung dengan kulit.

“Air banjir itu menyatu langsung dengan kulit. Kalau dari got, selokan, atau kotoran kandang, tentu kandungan bakterinya banyak. Itu bisa memicu gatal-gatal,” jelas dr Lia saat dihubungi pada Kamis (29/1/2026).

Ia menyebut, penyakit yang paling sering ditemui saat musim hujan dan banjir adalah diare. Penyakit ini muncul akibat konsumsi air atau makanan yang terkontaminasi, ditambah kondisi lingkungan yang tidak bersih pascabanjir.

“Diare ini paling banyak. Air yang tidak bersih, lingkungan yang kotor, apalagi setelah banjir, itu sangat memicu,” ujarnya.

Selain diare, penyakit lain yang kerap muncul adalah tifus. Penyakit ini juga berkaitan erat dengan kebersihan makanan dan minuman.

Sementara itu, demam berdarah menjadi ancaman lain yang perlu diwaspadai. Meski tidak menular secara langsung dari manusia ke manusia, penyebaran nyamuk di wilayah yang sama membuat kasus demam berdarah sering muncul secara berkelompok.

“Demam berdarah itu biasanya satu lingkungan. Kalau depan rumah kena, sampingnya bisa ikut kena, karena nyamuknya menyebar di area itu,” terang dr Lia.

Tak kalah mengkhawatirkan, infeksi virus seperti chikungunya juga banyak ditemukan saat musim hujan. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk ini kerap menyerang satu keluarga sekaligus. Gejalanya berupa demam tinggi dan nyeri hebat pada persendian, bahkan membuat penderitanya sulit berjalan.

“Sekarang yang cukup banyak itu chikungunya. Ada pasien usia 15–16 tahun sampai orang dewasa yang mengeluh nyeri sendi berat,” katanya.

Meski banyak warga mengeluhkan gatal-gatal setelah terendam banjir, dr Lia menilai keluhan tersebut bukan yang paling dominan. Gatal biasanya disebabkan oleh kutu air atau iritasi kulit. Namun, ancaman yang lebih besar justru datang dari penyakit diare dan infeksi virus.

“Kalau gatal memang ada, biasanya kutu air. Tapi momok utamanya sekarang justru diare dan chikungunya,” ungkapnya.

Untuk mencegah berbagai penyakit tersebut, dr Lia menekankan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), terutama di tengah kondisi cuaca ekstrem yang sulit diprediksi. Ia mengingatkan agar warga lebih disiplin menjaga kebersihan rumah, mengurangi kebiasaan menggantung pakaian yang bisa menjadi sarang nyamuk, serta rajin mencuci tangan menggunakan sabun.

“Cuci tangan itu harus pakai sabun, bukan cuma air mengalir. Pastikan benar-benar bersih, terutama sebelum makan atau setelah beraktivitas,” tegasnya.

Perhatian khusus juga perlu diberikan kepada anak-anak. Menurut dr Lia, banyak kasus diare pada anak terjadi karena kebiasaan memasukkan jari ke mulut, ditambah kondisi kuku yang kotor.

“Kalau daerahnya habis banjir, rumahnya kotor, kebersihan anak kurang, itu risikonya makin besar. Orang tua harus lebih awas,” katanya.

Jika tubuh terlanjur terkena air banjir, dr Lia menyarankan untuk segera membersihkan bagian tubuh yang terpapar dengan sabun dan air mengalir. Langkah sederhana ini dinilai sangat penting untuk mengurangi risiko infeksi.

Sementara bagi warga yang terjangkit chikungunya, dr Lia meminta masyarakat tidak panik. Ia menyarankan untuk menyiapkan obat-obatan ringan di rumah dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila keluhan tidak tertahankan.

“Yang penting jangan panik. Kalau sudah tidak nyaman, silakan berobat ke fasilitas kesehatan,” pungkasnya.

Dengan kewaspadaan dan penerapan pola hidup bersih dan sehat, pihaknya berharap masyarakat dapat terhindar dari berbagai penyakit yang mengintai di balik genangan air banjir.