KUDUS, Kaifanews — Pemerintah Desa Terban, Kecamatan Jekulo, mempercepat normalisasi Sungai Kalisetro sebagai langkah antisipasi banjir yang kerap meluap hingga ke jalur Pantura. Pekerjaan difokuskan di sekitar jembatan Kalisetro sisi barat kawasan Pura, yang selama ini menjadi titik rawan ketika debit air meningkat.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kepala Desa Terban, Supeno, mengatakan persoalan utama terletak pada jembatan lama yang sempit dan alur sungai yang berkelok. Saat banjir kiriman dari wilayah hulu, terutama dari Kabupaten Pati, kapasitas sungai tidak mampu menampung debit air sehingga limpasan mengarah ke jalan nasional Pantura.

“Kalau air dari hulu besar dan tidak tertampung, pasti melimpas ke Pantura. Padahal ini jalur vital nasional. Walaupun hanya seperempat jam, dampaknya besar karena lalu lintas langsung tersendat,” ujar Supeno saat dihubungi pada Senin (2/1/2026).

Meski kewenangan penanganan sungai berada di Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) di bawah pemerintah pusat, Pemerintah Desa Terban tetap mengambil inisiatif dengan mendorong normalisasi darurat. Langkah ini ditempuh karena potensi risiko yang ditimbulkan dinilai tinggi, baik bagi masyarakat sekitar maupun pengguna jalur nasional.

Pekerjaan normalisasi ditargetkan rampung dalam dua hingga tiga hari. Fokus pengerjaan meliputi pelurusan alur sungai sepanjang sekitar 50 hingga 100 meter di sekitar jembatan, serta pembersihan sedimentasi dan sampah yang selama ini menghambat kelancaran aliran air.

“Alurnya berkelok seperti ular, air jadi berputar dan tertahan. Kalau diluruskan, meskipun jembatannya masih kecil, setidaknya aliran bisa lebih lancar dan tidak meluap ke Pantura,” jelasnya.

Supeno menegaskan penanganan Sungai Kalisetro menjadi prioritas karena menyangkut kepentingan nasional. Ia berharap perhatian pemerintah pusat dan provinsi lebih diarahkan ke titik-titik rawan di jalur strategis, bukan hanya pada sungai-sungai kecil yang dampaknya terbatas.

Selain ancaman banjir, limpasan air juga kerap memicu kerusakan jalan di sekitar jembatan. Lubang-lubang di badan jalan muncul akibat gerusan air dan dilalui kendaraan bertonase berat. Meski demikian, ia menilai penanganan kerusakan jalan tahun ini relatif lebih cepat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Lubang memang ditambal lalu rusak lagi karena hujan dan beban kendaraan, tapi sekarang responsnya lebih cepat. Ini jauh lebih baik dari sebelumnya,” tandasnya.