Kaifanews – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya bergerak di zona hijau pada perdagangan Kamis (5/3/2026) setelah sempat terpuruk hingga 4 persen. Rebound ini memberikan sedikit napas lega bagi para investor yang sebelumnya khawatir akan kejatuhan pasar lebih dalam.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Scroll Untuk Lanjut Membaca

Meski menunjukkan tren penguatan, banyak analis mempertanyakan apakah kenaikan ini merupakan pemulihan fundamental yang berkelanjutan. Pasar kini sedang menimbang antara kekuatan beli lokal dan tekanan jual asing yang masih terasa cukup kuat. Volatilitas tinggi diprediksi masih akan mewarnai lantai bursa sepanjang pekan ini seiring dinamika ekonomi global.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.58 WIB, IHSG naik 1,80 persen ke 7.713,76, dengan nilai transaksi Rp6,06 triliun dan volume perdagangan 10,58 miliar saham. Sebanyak 618 saham naik, 109 saham turun, dan 231 sisanya stagnan.

IHSG berhasil menguat dana mencoba kembali ke level psikologisnya setelah mengalami koreksi tajam dalam beberapa hari terakhir. Sektor perbankan dan energi menjadi penopang utama kenaikan indeks pada sesi perdagangan pagi ini.

Banyak investor ritel mulai melakukan aksi beli selektif terhadap saham-saham yang dianggap sudah jenuh jual (oversold). Kondisi ini mendorong indeks bergerak naik meskipun volume transaksi harian masih belum menunjukkan penguatan yang sangat besar.

Pengamat pasar modal Michael Yeoh mengingatkan bahwa kenaikan hari ini mungkin hanya bersifat technical rebound sesaat setelah penurunan drastis. Pasar masih memerlukan katalis positif yang lebih kuat untuk benar-benar mengonfirmasi pemulihan tren jangka panjang.

“Kenaikan hari ini memang memberikan optimisme, namun kita harus waspada terhadap risiko koreksi lanjutan. Investor sebaiknya tetap berhati-hati dan tidak terburu-buru melakukan spekulasi tanpa perhitungan matang,” ujarnya.

Tekanan dari sentimen luar negeri terkait kebijakan suku bunga global masih menjadi faktor penghambat utama bagi indeks. Aliran modal asing terpantau belum sepenuhnya kembali masuk ke pasar saham domestik secara masif.