KUDUS, Kaifanews — Puncak 29 atau yang lebih dikenal sebagai Songo Likur bukan hanya menawarkan panorama memukau dari ketinggian Pegunungan Muria. Di balik keindahannya, destinasi wisata alam di Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, ini menyuguhkan jalur pendakian yang cukup menantang dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pecinta alam.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Scroll Untuk Lanjut Membaca

Perjalanan menuju puncak dimulai dari Basecamp atau Pos 1 yang berada di kawasan parkir Desa Rahtawu. Dari titik ini, pendaki dapat memilih berjalan kaki sejak awal atau memanfaatkan jasa ojek menuju Pos 5 dengan tarif sekitar Rp80 ribu sekali jalan dan Rp80 ribu untuk perjalanan turun.

Jalur pendakian menuju Puncak 29 di Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, menawarkan panorama Pegunungan Muria yang indah. Foto: Ihza Fajar/Kaifanews

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus, Ahmad Munaji, mengatakan jalur menuju Puncak 29 relatif aman bagi pendaki karena sudah mengalami banyak perbaikan. Meski demikian, kondisi fisik yang prima tetap menjadi syarat utama sebelum memulai perjalanan.

“Jalurnya sudah jauh lebih baik karena sebagian besar telah dicor untuk setapak. Tetapi tetap membutuhkan kesiapan fisik karena karakter medannya memang menanjak,” ujarnya saat ditemui, Senin 20 Juli 2026.

Jalur pendakian menuju Puncak 29 di Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, menawarkan panorama Pegunungan Muria yang indah. Foto: Ihza Fajar/Kaifanews

Dari Basecamp, pendaki akan melewati Pos 2 yang berada di kawasan sumber mata air, kemudian melintasi Pos 3, Pos 4 atau kawasan Sendang Bunton, hingga tiba di Pos 5 yang berada di area Petilasan Eyang Pandu. Jalur ini juga memiliki beberapa percabangan menuju Tempur, Kabupaten Jepara, sehingga pendaki diimbau tetap mengikuti rambu maupun arahan petugas.

Selain panorama hutan tropis yang masih alami, pendaki akan disuguhi aliran mata air pegunungan, jembatan kecil, hingga kawasan petilasan yang menjadi bagian dari sejarah spiritual masyarakat setempat.

Bagian paling menantang justru berada setelah Pos 5. Untuk mencapai Pos 6 atau Puncak 29, pendaki harus melewati tanjakan dengan kemiringan yang cukup ekstrem, bahkan di beberapa titik mencapai sekitar 75 derajat.

“Pos 5 menuju puncak menjadi jalur yang paling menguras tenaga. Rata-rata membutuhkan waktu sekitar 40 sampai 60 menit dengan medan yang cukup terjal sehingga pendaki harus ekstra hati-hati,” jelasnya.

Jalur pendakian menuju Puncak 29 di Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, menawarkan panorama Pegunungan Muria yang indah. Foto: Ihza Fajar/Kaifanews

Berdasarkan pemetaan jalur pendakian, waktu tempuh dari Basecamp menuju Puncak 29 berkisar 192 menit atau sekitar 3 jam 12 menit tanpa memperhitungkan waktu istirahat. Namun dalam kondisi normal, perjalanan pulang-pergi berikut waktu beristirahat umumnya memerlukan sekitar lima hingga delapan jam, bergantung pada kemampuan fisik masing-masing pendaki.

Selama perjalanan, pendaki akan melewati beberapa titik penting seperti Sumber Air 2, Sumber Air 3, Percabangan Trenggo, Pos 3, Pos 4 Sendang Bunton, Percabangan Tempur Jepara, Pos 5, Petilasan Eyang Pandu hingga akhirnya tiba di Puncak 29 yang berada di ketinggian Pegunungan Muria.

Untuk mendukung keselamatan pengunjung, terdapat petugas di sejumlah pos sepanjang jalur pendakian. Munaji mengimbau para pendaki agar tidak memaksakan diri apabila kondisi tubuh mulai menurun, membawa perlengkapan yang memadai, serta selalu menjaga kebersihan kawasan wisata.

“Kami berharap semua pendaki menikmati keindahan Puncak 29 dengan tetap mengutamakan keselamatan dan menjaga kelestarian alam. Jangan tinggalkan sampah dan selalu ikuti arahan petugas,” pungkasnya.(*)