KUDUS, Kaifanews — Apa yang selama ini dianggap sebagai sisa produksi tahu ternyata masih bisa diolah menjadi makanan ringan. Gagasan tersebut dikenalkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) 53 UIN Kudus kepada warga Dukuh Badongan, Desa Tumpangkrasak, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, melalui pelatihan pembuatan keripik ampas tahu.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pelatihan yang digelar itu diikuti sekitar 30 warga Dukuh Badongan dan turut dihadiri perangkat desa setempat. Mahasiswa KKN tidak hanya menjelaskan konsep pengolahan, tetapi juga memperagakan secara langsung tahapan membuat ampas tahu menjadi keripik.

Bagi masyarakat yang selama ini mengenal ampas tahu sebagai hasil samping produksi tahu dan lebih banyak dimanfaatkan untuk pakan ternak, pengolahan tersebut menjadi alternatif baru. Bahan yang sebelumnya belum banyak dilirik untuk konsumsi justru diperkenalkan sebagai produk camilan yang berpotensi memiliki nilai ekonomi.

Sebelum memberikan pelatihan, mahasiswa KKN 53 terlebih dahulu melakukan sejumlah percobaan. Langkah tersebut dilakukan untuk menemukan proses pengolahan yang tepat sehingga pembuatan keripik dapat dipraktikkan kembali oleh masyarakat secara mandiri.

Selama kegiatan berlangsung, warga tampak antusias mengikuti proses pembuatan. Ketertarikan tersebut tidak berhenti pada melihat demonstrasi, sejumlah peserta juga tertarik mencoba mengolah ampas tahu sendiri setelah pelatihan.

Sukamto, salah seorang pemilik produksi tahu, menilai kegiatan tersebut memberikan sudut pandang baru terhadap pemanfaatan ampas tahu yang selama ini dihasilkan dari proses produksi.

“Saya sangat suka dengan adanya pelatihan dari KKN 53 ini karena sangat bermanfaat bagi masyarakat. Ampas tahu yang selama ini hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak ternyata bisa diolah menjadi keripik yang memiliki nilai jual,” ujarnya pada Rabu 26 Agustus 2026.

Menurutnya, inovasi tersebut berpeluang dikembangkan lebih jauh apabila pengolahan dan pemasaran dilakukan secara serius. Keripik ampas tahu tidak hanya dapat menjadi produk rumahan, tetapi juga berpotensi dikembangkan sebagai makanan khas dari wilayah setempat.

“Kalau diolah dengan baik dan pemasarannya bisa lebih luas, keripik ampas tahu ini bisa diperjualbelikan, bahkan bisa menjadi makanan khas dari Desa Tumpangkrasak, khususnya Dukuh Badongan,” katanya.

Potensi tersebut membuat pengembangan produk menjadi tahap berikutnya yang perlu diperhatikan. Selain menjaga kualitas rasa, kemasan dan identitas produk juga dapat menjadi faktor penting agar keripik lebih mudah dikenalkan kepada konsumen.

Salah satu Mahasiswa KKN 53, M. Nur Solikhunnaja berharap warga tidak berhenti pada proses pembuatan yang diperkenalkan dalam pelatihan.

“Ampas tahu yang tersedia dari aktivitas produksi tahu di lingkungan sekitar dapat terus dieksplorasi menjadi produk olahan dengan tampilan dan cita rasa yang lebih menarik,” jelasnya.

Pengembangan label, kemasan, variasi rasa hingga pemasaran juga dinilai dapat menjadi langkah lanjutan. Jika dikelola secara konsisten, inovasi sederhana tersebut dapat membuka peluang usaha baru sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari bahan yang sebelumnya lebih banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

“Melalui pelatihan ini, kami mendorong warga untuk terus melihat potensi yang ada di sekitar mereka. Dari bahan yang selama ini dianggap sebagai sisa, muncul peluang untuk menciptakan produk baru yang dapat dikembangkan menjadi bagian dari usaha masyarakat,” tandasnya.