SEMARANG, Kaifanews — Di tengah cepatnya pergantian tren musik di tanah air, nama Serempet Gudal justru tetap bertahan dan relevan. Grup musik asal Semarang, Jawa Tengah, yang akrab disapa Sereal ini menjadi salah satu band independen yang mampu menjaga eksistensi hampir dua dekade tanpa kehilangan identitasnya.
Berdiri sejak 2007, Serempet Gudal dikenal lewat racikan musik yang tak lazim. Mereka memadukan orkes komedi dengan berbagai genre lain, mulai dari pop-punk, dangdut, reggae, hingga rock. Perpaduan lintas-genre inilah yang membuat Sereal selalu mudah dikenali di setiap panggung.
Formasi Serempet Gudal terbilang “ramai” dan menjadi kekuatan tersendiri saat tampil live. Band ini diperkuat Sela Good sebagai vokal utama, Ajeng Adha di vokal kedua, Lutfi Gembenk dan Om Bonci sebagai backing vocal, Bayi dan Bondan di gitar, Eno pada bass, Ucok di keyboard, Inu Lazuardy di drum, serta Panji yang mengisi kendang.
Vokalis Sela Good mengaku bangga dengan perjalanan panjang band yang telah mereka lalui.
“Sereal berdiri dari 2007. Berarti sudah 19 tahun jalan. Musik kami orkes komedi, tapi isinya campur-campur, dari pop-punk, dangdut sampai rock. Yang penting fun,” ujar Sela saat dihubungi pada Minggu (1/2/2026).
Keberanian bereksperimen menjadi ciri khas Sereal sejak awal. Mereka tak ragu menggabungkan berbagai warna musik sekaligus mengangkat tema-tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Biar beda aja. Kita main lintas-genre, dan tema lagu juga ngikutin isu atau hal yang lagi hype tiap tahunnya yang buat kita jadi punya karakter tersendiri,” jelasnya.
Tak hanya soal musik, kekuatan Serempet Gudal juga terletak pada lirik-liriknya yang nyeleneh, penuh humor, namun kerap menyimpan kritik sosial. Lagu-lagu mereka membentang dari tema ringan hingga isu yang lebih serius.
“Lagu kita variatif banget. Ada yang kocak kayak Kimcil, Zeng-Zeng soal cewek bau mulut, sampai yang agak dalem kayak Broken Pop buat teman-teman broken home. Kita juga punya Malingsia yang isinya nyentil persoalan sosial,” kata Sela.
Selama hampir dua dekade berkarya, Sereal telah merekam sekitar 40 lagu, meski sebagian di antaranya belum dirilis secara resmi. Ke depan, mereka berencana mendokumentasikan seluruh karya tersebut dalam bentuk arsip digital berupa video klip yang akan diunggah ke kanal YouTube.
Meski sebagian personelnya kini tak lagi muda, semangat Serempet Gudal disebut Sela masih sama seperti dulu.
“Kita pengin tetap eksis di musik Semarang dan Indonesia. Harapannya, Gen Z dan Gen Alpha juga bisa kenal Sereal. Kita bukan cuma ‘pakde-pakde’ dengan lagu lucu atau saru, tapi musisi yang terus berkembang,” tegasnya.
Tahun ini, Serempet Gudal juga menandai fase produktif lewat proyek Sereal Camp. Proyek tersebut dikemas dalam konsep live session di tengah hutan, sekaligus menjadi ruang perkenalan lagu-lagu terbaru mereka kepada publik.
“Kita bikin Sereal Camp di hutan, konsep live session. Sekalian ngenalin lagu-lagu baru yang sudah rilis, lengkap dengan video klipnya,” imbuh Sela.
Meskipun ditengah kesibukan para musisinya, pada bulan ini Sereal dijadwalkan manggung di Batang pada tanggal 6 serta di Semarang pada tanggal 14 Februari 2026.
Dengan perjalanan panjang, konsistensi berkarya, dan keberanian menertawakan realitas lewat musik, Serempet Gudal membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk tetap relevan di industri musik yang terus berubah. Lagu-lagu seperti Andeng-Andeng, Laskar Mahesa Jenar, Zeng-Zeng, Malingsia, Kimcil, Broken Pop, hingga Semarangan menjadi jejak panjang band Semarang yang seolah tak lekang oleh waktu.








