KUDUS, Kaifanews — Ada yang menarik dari penampilan SMP 3 Kudus dalam Karnaval Budaya 2026. Sekolah tersebut membawa cerita tentang Pisang Byar Muria, buah khas lereng Gunung Muria yang diolah menjadi konsep pertunjukan bertajuk “Marsudi Pisang Byar Muria”.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Scroll Untuk Lanjut Membaca

Konsep tersebut mengantarkan SMP 3 Kudus meraih juara 3 dalam Karnaval Budaya yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi ke-477 Kota Kudus.

Sebanyak 33 siswa SMP 3 Kudus terlibat dalam penampilan tersebut. Mereka tidak hanya mengenakan kostum bernuansa hijau dan merah, tetapi juga memerankan berbagai karakter yang berkaitan dengan kehidupan Pisang Byar Muria.

Ada sosok Dewi Klaras, penari yang menggambarkan Pisang Byar, masyarakat atau penjual pisang, pohon pisang hingga kelelawar yang menjadi simbol hama. Kostum kreasi berbentuk daun juga turut melengkapi visual penampilan para siswa.

Pembimbing sekaligus Guru Seni Budaya SMP 3 Kudus, Mudiningsih, mengatakan pemilihan Pisang Byar Muria bukan tanpa alasan. Pihaknya ingin mengangkat potensi lokal Kudus sekaligus menyampaikan pesan tentang hubungan antara alam, budaya dan kehidupan masyarakat.

“Pisang itu mudah ditanam dan hampir semua bagiannya bisa dimanfaatkan, mulai dari batang, daun, jantung sampai buahnya. Pisang Byar juga dikenal sebagai salah satu oleh-oleh bagi peziarah di Muria dan bisa menghidupi masyarakat melalui aktivitas UMKM,” kata Mudiningsih saat ditemui pada Senin 14 September 2026. 

Menurutnya, konsep tersebut diselaraskan dengan tema karnaval “Urup Nguripi”. Kata “urup” dimaknai sebagai sesuatu yang hidup dan dikenal, sedangkan “nguripi” menggambarkan kebermanfaatan bagi kehidupan.

Pisang Byar sendiri merupakan sebutan masyarakat untuk pisang tanduk yang memiliki ukuran besar dan panjang serta tumbuh di kawasan lereng Gunung Muria. Karakteristik tersebut kemudian menjadi identitas utama dalam penampilan SMP 3 Kudus.

Sosok Dewi Klaras juga dihadirkan sebagai simbol spirit pohon pisang. Klaras atau daun pisang yang telah mengering menjadi bagian dari filosofi tentang siklus kehidupan dan keselarasan manusia dengan alam.

Melalui pertunjukan tersebut, para siswa membawa pesan bahwa potensi alam tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan, tetapi juga bisa menjadi sumber kreativitas dan penggerak ekonomi masyarakat.

Salah satu siswi yang tampil dalam karnaval, Cinta Calista Brilian, mengaku bangga bisa menjadi bagian dari penampilan SMP 3 Kudus.

“Ini pengalaman yang luar biasa berharga. Saya juga merasa bangga bisa tampil dan ikut menyambut Hari Jadi Kabupaten Kudus melalui Karnaval Budaya,” ujarnya.

Penampilan para siswa tersebut akhirnya mendapat apresiasi dengan raihan juara 3. Bagi SMP 3 Kudus, capaian itu sekaligus menjadi pengalaman bagi para siswa untuk mengenal dan memperkenalkan kembali potensi budaya serta hasil bumi yang tumbuh di daerahnya.

Dari Pisang Byar Muria, para siswa mencoba menunjukkan bahwa warisan lokal bisa terus hidup ketika dikenalkan melalui cara yang kreatif dan dekat dengan generasi muda.