KUDUS, Kaifanews — Upaya mencegah risiko pada ibu hamil tidak cukup hanya mengandalkan pemeriksaan di fasilitas kesehatan. Pendampingan sejak masa kehamilan hingga pemantauan kondisi ibu menjadi perhatian dalam penguatan program penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), dan stunting di Kabupaten Kudus.
Penguatan tersebut dilakukan melalui program Kencan Bumil (Kenali dan Cek Kesehatan Ibu Hamil) dan Parijoto di Balai Desa Getassrabi, Kecamatan Gebog, Senin, 14 September 2026.
Ketua TP PKK Kabupaten Kudus Endhah Sam’ani Intakoris mengatakan pendampingan ibu hamil membutuhkan keterlibatan banyak pihak. TP PKK, Dinas Kesehatan, puskesmas, bidan desa, hingga kader diharapkan memiliki koordinasi yang kuat agar kondisi ibu hamil dapat dipantau secara berkelanjutan.
Menurut Endhah, salah satu penguatan dalam Kencan Bumil dilakukan melalui pola satu kader mendampingi satu ibu hamil. Dengan pola tersebut, kader diharapkan lebih mengetahui kondisi ibu yang didampinginya sekaligus membantu memastikan kebutuhan pemeriksaan dan pelayanan kesehatan terpenuhi.
“Jalan bareng, koordinasi bersama antara PKK, Dinas Kesehatan, puskesmas, bidan desa, dan para kader. Kita ingin ibu hamil mendapatkan pendampingan dengan baik sehingga risiko dapat diketahui lebih awal,” ujar Endhah.
Kader tidak hanya berperan mengingatkan pemeriksaan kesehatan. Mereka juga memberikan edukasi dan membantu memantau kondisi ibu hamil sehingga apabila ditemukan persoalan dapat segera dikoordinasikan dengan tenaga kesehatan.
Sementara itu, Parijoto difokuskan untuk memberikan pendampingan yang lebih intensif kepada ibu hamil dengan risiko tinggi. Dalam pelaksanaannya, bidan desa memiliki peran penting untuk memastikan kondisi ibu terpantau dan mendapatkan penanganan sesuai kebutuhan.
“Untuk ibu hamil risiko tinggi, pendampingannya lebih khusus. Kader bersama bidan desa harus mengetahui kondisi ibu dan melakukan pemantauan, sehingga apabila ada risiko bisa segera ditindaklanjuti,” jelas Endhah.
Endhah menilai deteksi lebih awal menjadi bagian penting dalam upaya menekan risiko kematian ibu maupun bayi. Karena itu, keberadaan kader di tengah masyarakat diharapkan mampu menjadi penghubung antara ibu hamil dengan layanan kesehatan.
Selain menjaga kesehatan ibu dan bayi, penguatan pendampingan sejak kehamilan juga diharapkan ikut mendukung upaya pencegahan stunting. Pemantauan yang dilakukan sejak awal memungkinkan kebutuhan kesehatan ibu dan janin lebih cepat diketahui.
“Yang paling penting pendampingannya berjalan, koordinasinya kuat, dan tidak ada ibu hamil yang luput dari pemantauan. Dengan begitu, kita bersama-sama berupaya mencegah kematian ibu dan bayi serta mendukung pencegahan stunting,” tandasnya.









