KUDUS, Kaifanews — Berawal dari ketidakcocokan dengan rasa sate taichan yang pernah dicicipinya di Kudus, Abdurrahman Sa’ad Fathan atau yang akrab disapa Imbo justru menemukan inspirasi untuk membuat racikan taichan sendiri.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kini, racikan tersebut berkembang menjadi Taichan Ma’jan, usaha kuliner yang dijalankannya dari Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, tepatnya di kawasan belakang GOR Supersoccer Arena Rendeng.

Menariknya, Imbo mengaku sebenarnya bukan seorang pecinta sate taichan. Ide membuat usaha tersebut justru muncul setelah dirinya mencicipi taichan di Semarang bersama mantan kekasihnya.

Saat itu, ia mencoba taichan di kawasan Bergota, Semarang, yang kini dikenal dengan nama Konicipicip. Dari pengalaman tersebut, Imbo menemukan cita rasa taichan yang menurutnya lebih sesuai dengan seleranya.

“Awalnya saya sebenarnya bukan pecinta taichan. Waktu mencoba beberapa taichan lokal di Kudus, saya kurang cocok. Kemudian saat di Semarang diajak makan taichan di Konicipicip, ternyata rasanya enak,” ujar Imbo saat ditemui Sabtu 3 Oktober 2026.

Pengalaman tersebut kemudian membuatnya penasaran. Ia mulai mencoba membuat ulang cita rasa yang didapatkannya dari taichan di Semarang dengan racikannya sendiri.

Dari proses mencoba dan bereksperimen itulah Taichan Ma’jan kemudian lahir dan terus dikembangkan hingga sekarang.

Salah satu pembeda Taichan Ma’jan adalah pilihan jenis daging yang ditawarkan. Jika umumnya sate taichan menggunakan potongan daging ayam, Imbo menyediakan tiga varian sate, yakni taichan dada, taichan paha dan taichan kulit.

“Yang membedakan Taichan Ma’jan dengan taichan lain di Kudus, kami punya tiga varian sate, yaitu dada, paha dan kulit,” jelasnya.

Untuk menjaga cita rasa, daging ayam yang digunakan terlebih dahulu melalui proses marinasi dengan racikan berbagai bahan. Menurut Imbo, proses tersebut menjadi salah satu kunci rasa sate yang ditawarkan.

Selain sate, Taichan Ma’jan saat ini juga menyediakan tambahan lontong dan nasi daun jeruk sebagai pilihan pendamping.

Satu porsi taichan dibanderol Rp20 ribu dengan isi 10 tusuk sate. Sementara bagi pelanggan yang ingin lebih praktis, tersedia paket hemat berisi delapan tusuk sate ditambah lontong dengan harga yang sama, yakni Rp20 ribu.

Tidak hanya mengandalkan rasa marinasi, Taichan Ma’jan juga memiliki dua pilihan sambal dengan karakter rasa yang berbeda.

“Keunggulannya ada di marinasi yang menggunakan bahan cukup kompleks. Selain itu, kami punya dua sambal dengan rasa otentik yang hanya bisa ditemukan di Taichan Ma’jan,” katanya.

Untuk saat ini, Taichan Ma’jan masih dalam tahap persiapan tempat jualan baru. Sembari menunggu lokasi tersebut siap, seluruh pesanan sementara dilayani dari rumahnya di Desa Rendeng.

Pelanggan dapat melakukan pemesanan secara daring melalui WhatsApp di 0851-5612-9139 maupun layanan Grab Food. Lokasi Taichan Ma’jan juga sudah tersedia di Google Maps sehingga pelanggan dapat menemukan titik usahanya dengan lebih mudah.

Taichan Ma’jan buka setiap hari. Senin hingga Kamis melayani pesanan mulai pukul 10.00 sampai 21.00 WIB. Sementara Jumat hingga Minggu, jam operasional dimulai siang hingga pukul 22.00 WIB.

Namun, jam buka dapat menyesuaikan kondisi. Pelanggan disarankan memantau informasi terbaru melalui Instagram Taichan Ma’jan sebelum melakukan pemesanan.

Bagi Imbo, perjalanan Taichan Ma’jan bukan sekadar membuka usaha kuliner. Ada proses panjang dari rasa penasaran, mencoba membuat sendiri, hingga menemukan racikan yang akhirnya menjadi produk jualannya.

“Dari awalnya kurang cocok dengan taichan yang pernah saya coba di Kudus, justru akhirnya saya belajar membuat sendiri. Sampai akhirnya lahir Taichan Ma’jan dan masih terus saya kembangkan sampai sekarang,” tandasnya. (*)