Kaifanews.com – Fenomena “Takjil War” atau perburuan menu berbuka puasa yang viral pada tahun-tahun sebelumnya diprediksi akan kembali meledak pada Ramadan 1447 Hijriah ini dengan kemunculan berbagai menu kekinian baru. Sejumlah menu seperti Fruit Sando (roti lapis buah khas Jepang), Es Lumut Kurma, hingga Bubur Sumsum Brulee kini mulai membanjiri lini masa media sosial dan diprediksi menjadi primadona baru bagi pemburu takjil di seluruh Indonesia.
Pelaku UMKM kuliner di berbagai daerah dilaporkan telah mencuri start dengan mengunggah konten resep estetik di platform TikTok dan Instagram sebelum puasa resmi dimulai. Strategi ini dilakukan untuk membangun antusiasme konsumen sekaligus memetakan tren pasar yang sangat dinamis menjelang bulan suci.
Tren tahun ini menunjukkan adanya pergeseran minat konsumen yang lebih menyukai perpaduan antara hidangan tradisional dengan teknik penyajian modern. Kehadiran Bubur Sumsum Brulee yang memiliki lapisan gula karamel di bagian atasnya menjadi contoh nyata inovasi yang sukses menarik perhatian generasi muda.
“Kami melihat tren Ramadan 2026 ini sangat dipengaruhi oleh aspek visual di media sosial. Menu seperti Es Lumut Kurma bukan hanya soal rasa, tapi juga estetika warna yang menggugah selera saat difoto atau direkam,” ujar seorang pengamat kuliner nasional.
Fenomena “Takjil War” tidak lagi sekadar kegiatan membeli makanan, melainkan telah bertransformasi menjadi bentuk interaksi sosial lintas komunitas. Media sosial berperan besar dalam mempercepat sebuah menu menjadi viral, sehingga mendorong UMKM untuk terus bereksperimen dengan rasa dan kemasan.
Banyak pedagang dadakan mulai menyiapkan stok bahan baku untuk menu-menu yang tengah naik daun tersebut guna mengantisipasi lonjakan permintaan di hari pertama puasa. Kemudahan akses informasi melalui tutorial singkat di media sosial membuat variasi takjil tahun ini jauh lebih beragam dibandingkan tahun sebelumnya.
“Kunci sukses UMKM tahun ini adalah kecepatan dalam menangkap apa yang sedang FYP (For Your Page). Konten video pembuatan takjil yang estetik terbukti lebih efektif menarik pembeli daripada sekadar brosur digital,” tambah praktisi pemasaran media sosial.
Pemerintah daerah juga mulai menyiapkan ruang bagi sentra-sentra takjil agar fenomena “War Takjil” ini dapat berlangsung tertib namun tetap menghidupkan ekonomi kerakyatan. Kehadiran menu kekinian ini diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi positif yang signifikan bagi para pelaku usaha kecil di seluruh pelosok tanah air.









