KUDUS, Kaifanews — Pimpinan Ranting Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, memilih kawasan hutan Muria sebagai tempat menggelar Maulid Alam Bebas. Kegiatan di Bukit Becici, kawasan Hutan Muria Desa Colo, sekaligus menjadi cara kader Ansor Colo menyambut Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).
Pemilihan alam terbuka bukan tanpa alasan. Di tengah agenda Muktamar NU yang menjadi perhatian warga nahdliyin, Ansor Colo ingin membawa satu pesan yang dinilai relevan dengan kondisi lingkungan saat ini, yakni pentingnya menjaga hutan sebagai bagian dari amanah keagamaan.
Ketua Pimpinan Ranting Ansor Colo, M. Zainal Arifin atau Gus Za’i, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan menjadi doa sekaligus pengingat agar persoalan lingkungan tetap mendapat perhatian dalam perjalanan organisasi NU ke depan.
“Selain menepati momentum Maulid Nabi, kami berharap muktamar nanti juga bisa berdampak pada pelestarian lingkungan dan hutan,” ujar Gus Za’i pada Jumat 28 Agustus 2026.
Menurutnya, kawasan Muria memiliki hubungan kuat dengan sejarah dakwah Sunan Muria. Nilai-nilai yang diwariskan Sunan Muria, salah satunya, dapat dibaca melalui cara manusia menempatkan alam sebagai bagian dari kehidupan sekaligus amanah yang harus dirawat.
“Kami meyakini ajaran-ajaran ekoreligi Sunan Muria dan para penerusnya bahwa alam adalah amanah, maka menjaganya adalah ibadah,” kata dia.
Karena itu, Maulid Alam Bebas tidak hanya ditempatkan sebagai agenda menyambut Muktamar NU. Bagi Ansor Colo, kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk mempertemukan aktivitas keagamaan, kaderisasi dan kepedulian terhadap lingkungan.
Gus Za’i menilai kepedulian terhadap alam membutuhkan kerja bersama. Hubungan yang baik antaranggota dan kader menjadi salah satu modal agar pesan-pesan tentang kebaikan, termasuk menjaga lingkungan, dapat terus disampaikan dan dilakukan secara bersama-sama.
“Melalui kegiatan ini, kita tidak hanya berkumpul untuk menjalankan rutinitas organisasi, tetapi juga belajar melihat alam sebagai bagian dari kebesaran Allah. Suasana alam bebas ini kita manfaatkan untuk mempererat kekompakan, memperkuat rasa persaudaraan, sekaligus merefleksikan perjuangan para pendahulu,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan tahlil, Maulid Al-Barzanji dan Manaqib Syekh Abdul Qodir Jailani. Setelah itu, peserta mengikuti pengajian tematik yang disampaikan Sahabat Aufal Minan atau Gus Ava.
Dalam kajian tersebut, Gus Ava membahas Kitab Al-Hikam Al-Haddadiyah karya Al-Imam Abdullah bin Alawi bin Muhammad al-Haddad. Materi kajian menjadi bagian refleksi spiritual bagi peserta untuk memperdalam nilai-nilai keislaman sekaligus menghubungkannya dengan kehidupan sosial dan pengabdian di tengah masyarakat.
Pemilihan Bukit Becici sebagai lokasi kegiatan juga memberi ruang bagi peserta untuk menikmati alam Muria secara langsung. Bagi Ansor Colo, pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkuat kesadaran bahwa menjaga lingkungan bukan persoalan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari tanggung jawab bersama.
Kegiatan ditutup dengan menyanyikan lagu “17 Agustus”, “Bagimu Negeri” dan “Ya Lal Wathon” secara bersama-sama. Rangkaian tersebut menjadi penutup kegiatan yang mempertemukan semangat keagamaan, kebangsaan dan kekompakan kader Ansor Colo.
“Melalui Maulid Alam Bebas, Ansor Colo berharap pesan tentang pentingnya merawat hutan dapat ikut menjadi bagian dari perhatian warga nahdliyin, termasuk dalam momentum Muktamar NU ke-35,” tandasnya.








