KUDUS, Kaifanews — SMP Negeri 3 Kudus mulai memanaskan mesin jelang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) 2026. Sekolah ini membawa modal besar berupa tradisi prestasi yang nyaris tanpa cela. Sejak Popda Kabupaten Kudus 2009, tim dari sekolah tersebut belum pernah tersentuh kekalahan.
Dominasi itu berlanjut di level Popda Karesidenan Pati yang tak tergoyahkan sejak 2015 dan selalu diperhitungkan oleh lawan pada regional Popda Jawa Tengah. Persiapan menuju Popda 2026 kini difokuskan pada penguatan mental juara. Hal tersebut ditegaskan pelatih sepak bola SMPN 3 Kudus, Cucun Sulistyo, sosok yang tak asing di dunia sepak bola Kudus.
Mantan pemain Persiku Kudus itu pernah menangani tim Laskar Macan Muria sebelum akhirnya mengabdikan diri membina atlet usia pelajar. Menurut Cucun, keberadaan Kelas Khusus Olahraga (KKU) menjadi fondasi penting dalam membangun mental atlet. Para siswa yang tergabung di KKU merupakan hasil seleksi ketat dan sudah memiliki kualitas teknik serta mental bertanding sejak awal.
“Secara mental, anak-anak ini sudah punya mental juara. Tinggal bagaimana kita menjaga agar mental itu tidak luntur,” ujarnya disela memberi intruksi pelatihan pada atletnya di Lapangan Gapuraja, Jepang, Mejobo, Kudus pada Kamis, 8 Januari 2026.
Ia menilai, tantangan terbesar justru datang dari rasa nyaman dan puas diri. Kondisi tersebut kerap membuat mental juara terkikis secara perlahan. Karena itu, pendekatan latihan yang diterapkan cenderung memberi tekanan, terutama menjelang kompetisi.
“Kalau terlalu nyaman, itu malah berbahaya. Makanya justru menjelang pertandingan kita buat mereka tidak nyaman, kita tekan. Supaya muncul lagi naluri bertarung, mau ambil risiko, mau menang,” tegasnya.
Tekanan latihan itu, lanjut Cucun, bertujuan memunculkan kembali insting kompetitif atlet, termasuk keberanian melakukan “killing moment” untuk mengamankan poin kemenangan. Latihan dengan intensitas tinggi dilakukan secara konsisten agar mental juara tetap terjaga.
Dalam hal disiplin dan manajemen tim, Cucun menegaskan tidak ada perlakuan istimewa bagi siapa pun. Semua pemain diperlakukan setara tanpa status pemain bintang.
“Semua punya kans yang sama. Tidak ada istilah pemain inti atau cadangan tetap. Setiap pemain punya peran penting, termasuk mereka yang masuk untuk mengubah situasi pertandingan,” jelasnya.
Pendekatan tersebut ditujukan agar seluruh pemain tetap termotivasi dan merasa dibutuhkan. Dengan begitu, setiap atlet memiliki keyakinan bahwa kontribusinya penting bagi tim, kapan pun kesempatan itu datang.
Dengan kombinasi tradisi prestasi, pembinaan KKU, serta penekanan kuat pada mental juara dan disiplin, SMPN 3 Kudus optimistis dapat kembali melanjutkan dominasi mereka untuk terus berprestasi.








