KUDUS, Kaifanews — Di tengah stigma yang kerap melekat pada sepak bola baik di usia dini hingga senior di Indonesia, mulai dari kontrol bola yang buruk, umpan yang asal-asalan, hingga mental yang mudah runtuh saat ditekan lawan, SMP Negeri 3 Kudus justru tampil sebagai pengecualian. Di bawah tangan dingin Cucun Sulistyo, sekolah ini bukan hanya melahirkan tim yang langganan juara, tetapi juga pemain-pemain yang matang secara teknik, mental, dan etika bermain.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Cucun, mantan pemain Persiku Kudus yang berposisi sebagai bek tengah dan pernah melatih di era Liga 3 Jawa Tengah, menilai kritik terhadap pemain lokal sering kali terlalu menyederhanakan persoalan.

Menurutnya, problem kontrol bola, passing, dan visi bermain memang masih ada, namun itu merupakan bagian dari proses pembinaan usia dini.

“Kalau bicara kontrol dan passing, itu memang masih ranah kita untuk memperbaiki karena anak-anak ini masih di bawah 15 tahun. Mereka masih dalam tahap berkembang,” ujarnya.

Namun, Cucun juga menegaskan bahwa pembinaan teknik dasar bukan hanya menjadi tugas sekolah. Ia menaruh kepercayaan besar pada peran Sekolah Sepak Bola (SSB) yang menjadi fondasi awal para pemain.

“SSB itu sebetulnya tempat utama mereka mengasah kualitas passing dan kontrol. Di sini kami lebih fokus membentuk tim, mental, dan cara bermain,” katanya.

Di lapangan latihan SMPN 3 Kudus, filosofi itu diterjemahkan dalam program yang terstruktur. Dalam satu sesi latihan, seluruh unsur permainan dimasukkan secara terpadu mulai dari teknik, fisik, hingga taktik.

“Di pemanasan saja sudah ada passing, kontrol, dan fisik. Masuk latihan pertama, mereka bebas main, ada finishing, lalu masuk ke taktik, bagaimana membangun serangan dari belakang, harus lewat mana, siapa bergerak ke mana,” jelas Cucun.

Dengan metode seperti itu, anak-anak terbiasa bermain dalam tempo tinggi dan dengan struktur yang jelas. Pola ini membuat mereka terlihat seolah sudah memiliki fisik yang kuat dan pemahaman permainan yang matang, meski masih di usia belia.

Di sisi lain, Cucun juga menyoroti satu masalah klasik sepak bola Indonesia yang masih terstigma dengan gaya bermain kasar, emosional, dan minim kontrol diri atau yang lebih sering disorot yakni bermain ala “tarkam”. Ia menolak keras model permainan semacam itu masuk ke dalam timnya.

“Saya ingin anak-anak ini mainnya lugas dan tegas, bukan kasar. Tegas dalam mengambil keputusan, bukan tegas dalam melanggar,” tegasnya.

Menurutnya, perkembangan teknologi siaran sepak bola ikut membantu membentuk kesadaran pemain muda. Tayangan pertandingan di televisi dan gawai, lengkap dengan VAR dan banyak kamera menyorot membuat pelanggaran mudah terlihat dan dihukum.

“Anak-anak sekarang nonton bola sudah tahu kalau melanggar itu bisa langsung ketahuan. Ini bikin mereka lebih hati-hati dan lebih fair,” ujarnya.

Hasilnya nyata. Sejak Cucun menangani tim SMPN 3 Kudus mulai 2009 hingga kini, nyaris tak ada catatan buruk soal disiplin. Bahkan, kartu merah pun belum pernah diterima pemainnya.

“Belum ada pemain kami yang kena kartu merah. Itu menunjukkan anak-anak bisa mengontrol diri dan mengikuti instruksi,” kata Cucun.

Prestasi dan penanaman jiwa fair play pun berjalan beriringan. Dominasi juara sekolah tersebut di Popda Kabupaten Kudus sejak 2009 dan di Popda Karesidenan Pati sejak 2015 menjadi bukti bahwa permainan bersih dan terstruktur tidak mengurangi daya saing, justru memperkuatnya.

Dengan bekal itu, tim tersebut kini menatap Popda 2026 dengan keyakinan tinggi. Bukan hanya untuk mempertahankan tradisi juara, tetapi juga untuk terus membuktikan bahwa sepak bola pelajar bisa menjadi ruang pembinaan karakter, bukan sekadar perebutan medali.