KUDUS – Sebuah bangunan ikonik yang sempat “tertidur” selama 16 tahun di lokasi prestisius Jalan A. Yani Nomor 100, sisi selatan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, akhirnya kembali berdenyut.
Bangunan yang dulunya berfungsi sebagai rumah tinggal sekaligus sarang burung walet tersebut kini bertransformasi menjadi Aselo Caffe dan gerai Tahu Petis Lawang Sewu.
Inovasi pemanfaatan aset terbengkalai milik Beny Ong ini tidak hanya menghapus kesan kumuh di pusat kota, tetapi juga berhasil menciptakan ruang produktif baru yang menyedot perhatian wisatawan dan pemburu kuliner di jantung Kota Kretek.
Langkah berani mengubah bangunan tua menjadi pusat kuliner ini menjadi bukti bahwa kreativitas mampu menghidupkan kembali aset yang lama tidak difungsikan.

Lokasinya yang sangat strategis membuat kawasan Jalan A. Yani kian berkembang menjadi titik kumpul baru bagi komunitas kreatif dan penikmat kopi di Kudus.
Salah satu magnet utama di lokasi ini adalah hadirnya Tahu Petis Lawang Sewu. Setelah sukses membangun basis pelanggan setia di food court Museum Kretek, sang pengelola memutuskan untuk melakukan ekspansi besar ke pusat kota. Kehadiran kuliner khas Semarang ini di Jalan A. Yani membawa angin segar bagi ragam kudapan lokal yang ada di Kudus.
Pemilik Tahu Petis Lawang Sewu, Andi Raih (Andi MM), mengungkapkan bahwa kunci kesuksesan ekspansinya terletak pada adaptasi menu tanpa meninggalkan identitas asli.
Ia sadar bahwa lidah masyarakat Jawa Tengah memiliki preferensi yang unik, sehingga inovasi rasa menjadi hal yang wajib dilakukan.
“Untuk varian, kami menyediakan petis original dan petis pedas. Ini salah satu inovasi baru, khususnya untuk pecinta rasa pedas,” jelas Andi Raih saat ditemui di gerai barunya, Sabtu (31/1).

Transformasi bangunan terbengkalai ini juga diapresiasi oleh pengunjung yang merindukan suasana nongkrong dengan nuansa arsitektur vintage yang telah direnovasi.
Aselo Caffe memberikan sentuhan modern pada struktur bangunan lama, menciptakan harmoni antara nilai sejarah bangunan dengan tren gaya hidup masa kini.
Kini, bangunan yang belasan tahun tertutup rapat tersebut telah terbuka lebar, menambah pilihan destinasi kuliner bagi warga lokal maupun wisatawan. Keberhasilan proyek ini diharapkan menjadi inspirasi bagi pemilik aset lain di Kudus untuk mengalihfungsikan bangunan terbengkalai menjadi pusat kegiatan ekonomi yang bermanfaat bagi masyarakat luas.








