KUDUS, Kaifanews – Pemerintah Kabupaten Kudus menetapkan status siaga darurat menyusul insiden keracunan massal yang menimpa ratusan siswa SMA Negeri 2 Kudus pasca-mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) berupa soto, Kamis (29/1).
Hingga Kamis siang, tercatat sebanyak 112 siswa harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit, sementara 104 siswa lainnya berada dalam observasi mandiri.
Menanggapi situasi kritis ini, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris bergerak cepat dengan mengerahkan 50 unit ambulans untuk proses evakuasi dan menginstruksikan seluruh rumah sakit terdekat untuk siaga penuh menerima pasien.
“Kami menyiapkan 50 ambulans yang siap bergerak kapan saja jika ada tambahan laporan korban dari observasi mandiri. Data jumlah korban saat ini mencapai 112 di rumah sakit dan 104 observasi mandiri, namun data ini masih dinamis dan bisa berubah sewaktu-waktu,” tegas Sam’ani Intakoris.

Dugaan keracunan ini mengarah pada menu soto yang dipasok oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pabrik Kapas yang berlokasi di Jalan Raya Kudus-Jepara.
Berdasarkan informasi lapangan, para siswa mengonsumsi menu tersebut pada hari sebelumnya, namun efek mual, pusing, dan muntah baru dirasakan secara massal pada hari ini.
Fenomena “reaksi tertunda” ini memicu kepanikan di lingkungan sekolah sebelum akhirnya Pemkab Kudus mengambil alih penanganan secara total.
Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, yang meninjau langsung kondisi korban di RSUD Dr. Loekmono Hadi, menyatakan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam atas insiden ini. Ia telah berkoordinasi dengan jajaran Forkopimda (Forum Koordinasi Pimpinan Daerah) untuk mengusut tuntas rantai pasok makanan tersebut.
“Keselamatan warga, khususnya anak-anak kita, adalah prioritas utama. Pemerintah harus sigap dan hadir di tengah masyarakat. Saya sudah perintahkan tim Dinas Kesehatan untuk standby 24 jam dalam kondisi ini,” tegas Sam’ani Intakoris saat memberikan arahan kepada tenaga medis.

Selain penanganan medis, Bupati Sam’ani langsung mengadakan rapat koordinasi dengan unsur Forkopimda (Forum Koordinasi Pimpinan Daerah) Kabupaten Kudus. Fokus utama koordinasi ini adalah menelusuri rantai pasok dan proses pengolahan menu soto yang diduga menjadi pemicu keracunan. Tim teknis dari Dinas Kesehatan (Dinkes) juga diperintahkan untuk tetap berada dalam kondisi siaga 24 jam di titik-titik krusial.
Investigasi mendalam kini tengah dilakukan dengan melibatkan ahli epidemiologi untuk mengambil sampel dari sisa makanan yang dikonsumsi siswa. Bupati menegaskan bahwa transparansi adalah kunci agar kepercayaan masyarakat terhadap program pemenuhan gizi tetap terjaga.
“Saya sudah instruksikan tim Dinas Kesehatan untuk standby dalam kondisi ini dan terus memantau perkembangan setiap jam. Kita harus menemukan penyebab pastinya, apakah ada kontaminasi pada bahan baku atau ada prosedur yang terlewati,” tambah Sam’ani.

Langkah cepat ini diapresiasi oleh berbagai pihak sebagai bentuk kehadiran negara dalam menjamin keselamatan publik. Sementara itu, pihak SPPG Purwosari selaku penyedia menu menyatakan kesiapannya untuk bersikap kooperatif selama proses investigasi berlangsung.
Hingga sore ini, sebagian besar siswa masih menjalani observasi intensif, sementara beberapa lainnya yang kondisinya membaik sudah diperbolehkan pulang dengan pemantauan ketat dari tim medis.
Data Korban Sementara
| Kategori Gejala | Lokasi Penanganan | Jumlah Siswa |
| Gejala Berat (Rujuk RS) | RSUD Dr. Loekmono Hadi | 28 |
| RS Sarkies ‘Aisyiyah (RSSA) | 13 | |
| RSI Sunan Kudus | 15 | |
| RSU Kumala Siwi (RSKS) | 13 | |
| RS Kartika Husada (RSKH) | 9 | |
| RS ‘Aisyiyah (RSA) | 15 | |
| RS Mardi rahayu (RSMR) | 19 | |
| Total Gejala Berat | 112 | |
| Gejala Ringan | Observasi Mandiri | 104 |
| TOTAL KESELURUHAN | 216 |
(sgk)








