KUDUS – Dunia pertanian terus mengalami perkembangan seiring hadirnya berbagai inovasi modern yang memudahkan proses budidaya tanaman. Salah satu metode yang kini mulai banyak diperbincangkan di kalangan petani muda adalah Soil Block, teknik penyemaian bibit tanpa menggunakan polybag maupun tray plastik. Metode persemaian benih modern menggunakan media tanam yang dipadatkan (dicetak) menjadi balok-balok kecil tanpa memerlukan wadah plastik seperti polybag.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Teknologi Soil Block sangat populer untuk pembibitan tanaman hortikultura seperti cabai, tomat, dan bawang merah karena praktis dan efisien.

Metode Soil Block dinilai lebih praktis, hemat biaya, serta ramah lingkungan karena mampu mengurangi penggunaan limbah plastik dalam kegiatan pertanian. Inovasi ini mulai diterapkan oleh sejumlah petani milenial di berbagai daerah sebagai solusi pertanian modern yang lebih efisien.

Teknologi Soil Block mulai diuji coba pada komoditas bawang merah dan cabai melalui program percontohan yang dilaksanakan di Desa Tuksari, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Penerapan perdana teknologi tersebut dilakukan langsung oleh Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto.

Program percontohan ini merupakan inisiatif dari Direktorat Jenderal Hortikultura sebagai langkah pengembangan teknologi pertanian modern yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Melalui inovasi tersebut, Kementerian Pertanian berupaya menjaga ketersediaan komoditas cabai serta bawang merah dan bawang putih. Selain dinilai lebih ramah lingkungan, teknologi Soil Block juga diyakini mampu mempercepat proses budidaya sekaligus meningkatkan produktivitas tanaman hortikultura.

Prihasto Setyanto menjelaskan bahwa Soil Block merupakan teknik persemaian benih bawang dan cabai berbasis ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah organik. Bahan yang digunakan berasal dari sedimentasi rawa yang kemudian dipadukan dengan pupuk kandang, fosfat alam, kapur dolomit, cocopeat, serta gambut.

Penggunaan metode ini memiliki sejumlah keunggulan dibanding cara konvensional. Selain mempermudah proses pindah tanam, akar bibit tidak mudah rusak karena tidak mengalami tekanan seperti saat dipindahkan dari polybag. Kondisi tersebut membuat pertumbuhan tanaman menjadi lebih optimal.

Bagi petani milenial di Kabupaten Kudus, inovasi Soil Block dapat menjadi peluang baru untuk meningkatkan efisiensi usaha pertanian. Terlebih saat ini tren pertanian organik dan ramah lingkungan semakin diminati masyarakat.

 Selain lebih hemat tempat, metode ini juga mampu mengurangi biaya pembelian wadah semai plastik. Dalam jangka panjang, penggunaan Soil Block dinilai lebih ekonomis karena bahan pembuatannya mudah ditemukan dan dapat dibuat secara mandiri.

Di tengah perkembangan teknologi pertanian modern, generasi muda diharapkan tidak ragu mencoba inovasi baru yang lebih efektif dan berkelanjutan. Kehadiran Soil Block menjadi salah satu contoh bahwa pertanian masa kini tidak lagi identik dengan cara-cara tradisional, melainkan dapat dikembangkan menjadi sektor usaha yang modern, produktif, dan bernilai ekonomi tinggi.

Dengan semakin banyaknya petani muda yang terbuka terhadap inovasi, sektor pertanian di Kudus diharapkan mampu berkembang lebih maju dan kompetitif di masa mendatang. (*)