KUDUS, Kaifanews.com – Di tengah hiruk-pikuk Kota Kudus yang dikenal sebagai kota industri kretek, ada satu kuliner tradisional yang tetap bertahan lintas generasi: Lentog Tanjung. Makanan berbahan dasar lontong dan sayur nangka ini bukan sekadar hidangan sarapan, tetapi juga simbol kehangatan dan kesederhanaan warga Kudus.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Nama “lentog” diambil dari bentuk lontong yang bulat padat, sementara “Tanjung” merujuk pada daerah asalnya, Tanjung Karang, Kecamatan Jati, Kudus. Cita rasa gurih kuah santan yang berpadu dengan lembutnya sayur nangka dan potongan tahu, tempe, serta telur rebus menjadikan menu ini digemari lintas usia.

Meski tampil sederhana, lentog tanjung memiliki daya tarik tersendiri. Hidangan ini sering kali ditemani sate usus, telur puyuh, kerupuk, dan taburan bawang goreng yang menambah selera makan di pagi hari.

Tak sulit menemukan lentog tanjung di Kudus. Beberapa warung legendaris bahkan telah beroperasi selama puluhan tahun dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Sebut saja Lentog Tanjung Pak Warsito di Jalan Kudus–Purwodadi yang kini dikelola oleh anaknya, Sediyati. Di hari-hari biasa, warung ini bisa menjual hingga 100 porsi, dan meningkat empat kali lipat saat akhir pekan. Harga seporsinya masih bersahabat — hanya sekitar Rp7.000.

Selain itu, ada juga Lentog Tanjung Pak Ashari di sekitar Pasar Jember Kudus, Pak Ashadi di Jalan AKBP Agil Kusumadya dengan kuah santan yang lebih pekat, hingga Pak Mitro yang sudah eksis dua dekade di kawasan Klentengan, Tanjung Karang.

Tak kalah menarik, Lentog Tanjung Pak Solikin di Wergu Wetan dikenal bukan hanya karena rasa gurihnya, tetapi juga karena sosok penjualnya yang ramah dan gemar mengobrol dengan pelanggan. Sementara Lentog Tanjung Pak Kasrun di dekat RS Mardi Rahayu menjadi favorit banyak orang karena lokasinya strategis di pusat kuliner lentog Kudus.

Dengan harga antara Rp7.000 hingga Rp10.000 per porsi, lentog tanjung tetap menjadi ikon kuliner rakyat Kudus — bukti bahwa cita rasa lokal tak harus mahal untuk dikenang.

Jika Anda berkunjung ke Kudus, jangan hanya mencari menara dan rokok kretek. Cicipilah seporsi lentog tanjung di pagi hari — warisan cita rasa yang sederhana, namun sarat makna budaya dan kehangatan khas masyarakat Kudus.(UR)