OPINI – kaifanews.com | Mengapa KH Miftachul Akhyar, Rois Am PBNU memilih hadir di Kudus memenuhi undangan Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) Jawa Tengah untuk penanda tanganan Kategori Masjid Bersejarah Sunan Muria dan Silaturtahim di Masjid Sunan Kudus? Padahal pada hari yang sama, 22 Oktober 2025 PBNU juga selenggarakan Apel Akbar Hari Santri di Ponpes Tambak Betas Jombang bersama Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf. Menurut info lingkaran satu, bagi KH Miftachul Akhyar ini adalah undangan dari Sunan Kudus dan Sunan Muria. Sehingga ini panggilan jiwa. Maka, ketika beliau ditawari untuk penandatantanan saat apel Hari Santri di simpang tujuh Kudus dimana Gubernur, Wagub Jawa Tengah dan Bupati serta Wabub Kudus juga rawuh, dengan tidak menturangi rasa hormat, beliau tidak kerso, tetapi harus sowan langsung ke Sunan Muria dan Sunan Kudus. Dalam tausyiah di kedua masjid bersejarah ini beliau berulang menyampaukan keprihatinan atas munculnya kelompok pemecah belah umat terutama melalui media sosial berbagai framing yang menyudutkan jejak jalan tengah (Islam wasathiyah) yang dipelopori NU dan Pesantren. Yang lebih parah lagi malah menuduh Pesantren sebagai pusat perbudakan dan praktek feodalisme seperti siaran “Uncensored Trans7”, Si Gembul dan sejumlah platform lain yang cendering stigmatis. Menurut Kiai Miftachul Akhyar, semua itu antara lain dampak dari gelombang perubahan besar era disruptif dampak dari pesatnya perkembangan teknologi Informasi dan komunikasi. Jauh-jauh berangkat dari PBNU Jakarta melalui darat ke Kudus, Beliau membubuhkan tanda tangan, Masjid Sunan Muria sebagai Masjid Bersejarah, menunjukkan pesan simbolik bahwa Generasi sekarang jangan lupa sejarah. Semua tahu setiap masjid punya sejarahnya sendiri, mengapa harus dikukuhkan kembali? Lantaran di era disruptif banyak kalangan hanya melihat artificial atas fenomena NU dan pesantren, namun ahistoris sehingga belum mampu menangkap noumena (pesan nilai etik estetik) dibalik fenomena pesantren. Fenomena siaran “Unsensored Trans7” yang berpolemik menyoroti pesantren Lirboyo dan Kiainya adalah bagian dari tafsir subyektif artificial minus historisitas etik atas pesantren. Bagi general sekarang mungkin tanda tangan Rois Am meneguhkan Masjid Sunan Muria sebagai Masjid Bersejarah mungkin dianggap biasa. Namun dalam semiotika tanda tangan ini memiliki relasi simbolik, paradigmatik dan sintagmatik.
Dalam relasi simbolik ia sebagai sistem tanda (sign) dimana penandanya semacam prasasti pernyataan yang mumuat pesan petanda pentingnya para peziarah memahami historisitas Islam ramah yang dibawa oleh para wali termasuk Sunan Muria dan Sunan Kudus. Dalam relasi paradigmatik mengingatkan kepada stake holder terutama umara, ilmuan dan kalangan pengusaha (bisnisman) agar mereka care juga dengan nilai-nilai sejarah yang di dalamnya ada falsafah hidup, desa mawa cara, negara mawa tata atau kalau di dalam pesantren Gus Dur menyebutnya sebagai subkultur. Lalu dalam relasi sintagmatik ini terkait pesan ke depan untuk para Gen-Z dan para konten creator agar lakukan observasi dan riset dahulu sebelum mereproduksi kearifan kultur historisitas eko sistem dalam pesantren yang sudah dirintis sejaj zaman keealian. Maka kerawuhan Rois Am PBNU ke Kudus dalam monen meneguhkan masjid bersejarah Sunan Muria dan Sunan Kudus, menunjukkan bangsa ini sedang mengalami krisis sejarah nilai. Saatnya back to historia. “Sejarah umat manusia adalah sejarah gagasan.” demikian Luigi Pirandello mengingatkan. Maka orang yang tidak mengenal dan mendalami sejarah, mereka tidak akan menemulan pesan inti dari sebuah peristiwa yang terlihat. Karena apa yang terlihat masa kini tak lepas dari peristiwa sejarah sebelumnya. Sustainable history. Bersyukur di Hari Santri 2025, Falsafah Manunggaling kawula Gusti, terlihat. Ulama, umara, akademisi, dan kalangan pengusaha berkolaborasi menemulan makna di balik Hari Santri. Agar bisa mengambil i’tibar masa lalu untuk kini dan kemudian hari.
Pesan Simbolik Rois Am PBNU di Kudus. *oleh: Nur Said _Sekretaris PCNU Kudus /Kaprodi Program Doktor Manajemen Pendidikan Islam UIN Sunan Kudus
Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini






