KUDUS, Kaifanews – Haul ke-68 K.H.R. Asnawi kembali diwarnai dengan gelaran Napak Tilas Laku KHR Asnawi, acara berangsung di Ponpes Raudlatuth Thalibin Bendan, Kerjasan, Jumat (12/12/2025). Gelaran Napak Tilas sebagai sebuah refleksi perjuangan. Bupati Kudus Sam’ani Intakoris melepas para peserta yang akan menempuh rute hingga Colo sebagai bagian dari rangkaian peringatan.
Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak sekadar sebuah perjalanan fisik semata, melainkan seruan untuk meneladani semangat perjuangan dalam men-syiarkan Islam serta pengabdian yang diwariskan K.H.R. Asnawi. Ia berharap generasi penerus mampu menjaga, merawat serta meneruskan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini menjadi sebuah refleksi spiritual yang sarat dengan pesan moral bagi masyarakat Kudus.
Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris menyebutkan, KHR Asnawi merupakan tokoh penting bagi Kabupaten Kudus, dan Indonesia pada umumnya, khususnya Jamiyyah Nahdlatul Ulama.
Pemerintah Kabupaten Kudus mendukung gelaran napak tilas laku KHR Asnawi yang telah berjuang dengan gigih untuk mengajarkan agama Islam kepada masyarakat Kudus. Termasuk masyarakat di daerah kawasan lereng Gunung Muria.
Sebanyak 1.000 peserta dari lintas unsur nahdliyyin dipastikan ambil bagian dalam rangkaian Gelaran Napak Tilas tersebut. Mereka berasal dari Ansor, IPNU, IPPNU, Pagar Nusa, Fatayat, santri Bendan, santri Qudsiyyah, hingga Jamaah Menara Kudus.
Perayaan Haul ke-68 KHR. Asnawi mengusung tagline “Suluh Peradaban, Mulat Ngelmu lan Laku”.
Panitia Haul, Muhammad Zainuri menyampaikan, Laku Napak Tilas diharapkan menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat dan santri Kudus untuk dapat meneladani keteladanan, perjuangan, kegigihan dan ketulusan hati KHR. Asnawi dalam mengembangkan Islam Ahlussunnah Wal Jamaah.
Dalam catatan sejarah, kata dia, KHR. Asnawi menjadwalkan untuk memberikan pengajian, bimbing agama kepada masyarakat pegunungan di Kudus setiap Jumat tertentu di Masjid Sunan Muria dengan jalan kaki, dan terkadang menggunakan transportasi lokal pada zamannya.
Perjuangan KHR. Asnawi bisa diteladani masyarakat dan santri Kudus dalam memperjuangan Islam. Termasuk di antaranya perjuangan santri dalam menuntut ilmu, baik dalam bentuk sekolah maupun lingkungan pesantren. Perjuangan KHR Asnawi dilaksanakan dengan tidak mudah. Termasuk perjuangan jalan kaki dalam menyebarkan agama Islam.
“Kita sebagai generasi muda, kegiatan apa yang dirintis romo kyai sejak dulu, diteruskan. Budaya adalah bagian dari semangat kita, semangat anak muda,’ ungkapnya.
“Semoga perjalanan dari Pondok Bendan sampai Colo berjalan lancar. Jaga keamanan, jangan berdesak-desakan. Ini budaya adiluhung yang memberikan spirit bahwa laku Kiai Haji Raden Asnawi adalah laku kita semua,” ujar Bupati Sam’ani.
Ia menekankan bahwa napak tilas ini memberi ruang bagi anak muda untuk memahami sejarah peran KHR Asnawi, sekaligus mendalami ajaran dan ketawaduan yang diwariskan.
“Yang utama bukan hanya perjalanan fisik, tetapi perjalanan batin untuk merasakan betapa beratnya perjuangan beliau membimbing umat,” ujarnya.
Napak Tilas di Haul Ke-68 KHR Asnawi tidak hanya sekadar budaya tahunan semata melainkan refleksi spiritual keteladanan, perjuangan, kegigihan dan ketulusan perjuangan dalam men-syiarkan Islam. (IND)








