JAKARTA, Kaifanews — Tepat 16 tahun setelah kepergian KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, ingatan tentang jasa dan pemikirannya masih terasa hangat di berbagai penjuru Indonesia. Haul Gus Dur ke-16 kali ini bukan sekadar upacara rutin, tetapi momen refleksi nasional tentang relevansi nilai toleransi, pluralisme, dan demokrasi yang beliau perjuangkan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Gus Dur dikenal luas sebagai tokoh pluralisme dan demokrasi yang tak kenal lelah memperjuangkan keberagaman di tengah bangsa yang majmuk. Pemikirannya mencakup penghormatan terhadap berbagai kelompok agama, budaya, dan etnis—sebuah pendekatan yang dijelaskan sejumlah studi akademik sebagai landasan pluralisme dan multikulturalisme di Indonesia.

Selama masa hidupnya, Gus Dur aktif menyuarakan kebijakan keagamaan yang inklusif, menolak eksklusivisme dan fanatisme agama yang berpotensi memecah belah masyarakat. Pemikiran ini kini dijadikan rujukan dalam kajian ilmiah tentang kebijakan publik, pendidikan, dan hubungan antar-agama di Indonesia kontemporer.

Acara haul tahun ini di berbagai daerah, seperti yang berlangsung di Prabumulih, kembali menegaskan warisan Gus Dur dalam memperkuat toleransi dan persatuan lintas agama. Doa bersama, pembacaan teks toleransi, dan diskusi publik menjadi bagian dari rangkaian.

Menurut akademisi yang meneliti pemikiran Gus Dur, konsepnya tentang Islam yang inklusif dan menghormati perbedaan masih sangat relevan dalam menghadapi tantangan keagamaan dan sosial saat ini. Ia bahkan mendefinisikan pluralisme sebagai bukan sekadar pengakuan atas perbedaan, tetapi keterlibatan aktif dalam keberagaman itu sendiri— sebuah prinsip penting di masyarakat yang terus bertransformasi.

Momen haul juga bertepatan dengan pengukuhan Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah pada November 2025, pengakuan formal atas kontribusinya dalam meletakkan dasar demokrasi yang inklusif dan toleran di Indonesia. Penghargaan ini dinilai banyak pihak sebagai wujud pengakuan negara terhadap jasa besar Gus Dur dalam merawat persatuan bangsa.

Namun, meskipun Gus Dur telah digelari pahlawan, sejumlah pengamat berpendapat bahwa nilai-nilai yang ia perjuangkan masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia hari ini. Tantangan intoleransi, polarisasi sosial, dan diskriminasi agama tetap muncul di ruang publik, yang menunjukkan betapa pemikiran Gus Dur masih relevan dan dibutuhkan.

Sebagai tokoh yang menempatkan kemanusiaan dan pluralitas sebagai landasan kehidupan berbangsa, warisan Gus Dur terus dihidupkan oleh berbagai komunitas Gusdurian, organisasi masyarakat sipil, hingga akademisi. Perayaan haul ke-16 menjadi pengingat bahwa semangat pluralisme tidak boleh sekadar menjadi kenangan, tetapi harus dihidupi dalam tindakan nyata.

Gus Dur telah lama pergi, namun pemikirannya tentang toleransi, demokrasi, dan kemanusiaan tetap menjadi cermin penting bagi bangsa Indonesia yang terus mencari harmoni dalam keberagaman.”

(Jee)