JAKARTA, Kaifanews – Kilau logam mulia menutup tahun 2025 dengan catatan sejarah baru. Harga emas Antam hari ini, Senin (29/12/2025), tertahan di level rekor Rp2.605.000 per gram, sementara harga emas dunia melambung hingga USD 4.510 per ons troi atau sekiar dengn Rp75.673.000 per ons troi . Tidak kalah mengejutkan, perak mencatatkan kenaikan fantastis sebesar 138% sepanjang tahun ini, menjadikannya aset dengan performa terbaik di dunia.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Berdasarkan data pasar fisik di Indonesia, kenaikan ini telah memberikan keuntungan hingga 61,26% bagi investor yang membeli emas setahun lalu. Di pasar global, perak yang pada awal tahun diperdagangkan di kisaran USD 30 per ons sekitar Rp503.00 per ons, kini melonjak drastis hingga menyentuh USD 70 per ons atau sekitar dengan Rp1.174.000 per ons pada akhir Desember 2025.

Komoditas Harga Kenaikan Tahunan Status
Emas Antam Rp2.605.000 /gram +61,26% Rekor Sejarah
Emas Dunia USD 4.510 /oz Signifikan Safe Haven
Perak Dunia USD 70 /oz +138% Top Performer

Pertanda Baik atau Buruk?

Secara historis, kenaikan emas yang ekstrem sering kali menjadi “alarm” bagi kesehatan ekonomi dunia. Para analis melihat fenomena 2025 ini melalui dua kacamata:

  1. Cerminan Ketidakpastian (Sinyal Buruk): Lonjakan harga emas dipicu oleh kekhawatiran resesi di Amerika Serikat, ketegangan perdagangan global, dan defisit fiskal yang membengkak. Emas menjadi safe haven (aset pelindung) saat investor kehilangan kepercayaan pada mata uang kertas dan pasar saham.

  2. Inflasi Global: Di Indonesia, emas perhiasan menjadi penyumbang inflasi yang konsisten sepanjang tahun 2025. Hal ini menunjukkan daya beli masyarakat tergerus oleh kenaikan harga barang yang tidak dibarengi dengan stabilitas nilai mata uang.

Belajar dari Masa Lalu yang Kelam

Situasi saat ini sering dibanding-bandingkan dengan krisis minyak tahun 1970-an dan krisis keuangan 2008. Pada tahun 1980, emas pernah melonjak drastis akibat inflasi tinggi sebelum akhirnya anjlok (bubble burst). Para ahli memperingatkan bahwa jika kenaikan saat ini hanya didorong oleh spekulasi tanpa fundamental ekonomi yang kuat, risiko koreksi tajam bisa menghantui tahun 2026.

Namun, ada perbedaan besar pada perak. Berbeda dengan emas yang murni aset lindung nilai, kenaikan perak di 2025 didorong oleh permintaan industri struktural, terutama untuk teknologi panel surya, kendaraan listrik (EV), dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Kenaikan harga logam mulia di 2025 adalah cerminan dari dunia yang sedang “cemas”. Bagi investor, ini adalah masa panen keuntungan (cuan). Namun bagi ekonomi makro, ini adalah peringatan keras bahwa stabilitas keuangan global sedang berada di titik yang rapuh.