TEHERAN, Kaifanews – Iran kembali diguncang gelombang kemarahan publik sejak akhir Desember 2025. Aksi protes yang awalnya dipicu tekanan ekonomi kini berkembang menjadi unjuk rasa luas yang berujung bentrokan mematikan dengan aparat keamanan.
Memasuki hari kelima, eskalasi kekerasan tak terhindarkan. Laporan kelompok pemantau HAM menyebut sedikitnya tujuh orang kehilangan nyawa akibat tembakan aparat ketika demonstrasi menyebar ke sejumlah kota, termasuk Qom—wilayah yang selama ini dikenal sebagai pusat spiritual dan simbol kekuatan ideologis Republik Islam Iran.
Human Rights Activists News Agency mencatat korban jiwa terbanyak jatuh pada 1 Januari 2026. Kesaksian warga dan dokumentasi video memperlihatkan penggunaan peluru tajam oleh aparat saat membubarkan massa di beberapa wilayah, seperti Nurabad dan Hamadan. Di Qom sendiri, ribuan orang memadati jalan-jalan sambil melontarkan kecaman terbuka terhadap pemerintah—sebuah pemandangan yang dinilai mencerminkan retaknya benteng loyalitas tradisional rezim.
Tekanan Ekonomi Jadi Pemicu Utama
Akar kemarahan publik bermula dari krisis ekonomi yang kian memburuk. Nilai tukar rial anjlok tajam hingga menyentuh sekitar 1,45 juta per dolar AS di pasar bebas, memperparah inflasi dan membuat harga kebutuhan pokok melambung. Kondisi tersebut menggerus daya beli masyarakat dan memicu tuntutan yang tak lagi sebatas perbaikan ekonomi, melainkan perubahan arah kebijakan secara menyeluruh.
Merespons situasi tersebut, Presiden Masoud Pezeshkian mengambil langkah cepat dengan merombak pucuk pimpinan Bank Sentral Iran dan kembali menunjuk Abdolnaser Hemmati sebagai gubernur. Pezeshkian secara terbuka mengakui bahwa kemarahan rakyat merupakan kegagalan internal pemerintah, bukan semata dampak tekanan luar negeri.
Demonstrasi Menyebar ke Kampus
Gelombang protes juga merambah dunia akademik. Ratusan mahasiswa dilaporkan menggelar aksi di sejumlah universitas di Teheran, sementara demonstrasi serupa muncul di Isfahan, Yazd, dan Zanjan. Massa yang turun ke jalan terdiri dari mahasiswa, pedagang, hingga pelaku usaha yang terdampak langsung oleh merosotnya nilai mata uang dan lonjakan harga barang.
Media lokal melaporkan unjuk rasa berlangsung di berbagai titik sejak 30 Desember 2025, menandai meluasnya ketidakpuasan lintas kelompok sosial.
Janji Dialog di Tengah Ketegangan Regional
Di tengah tekanan domestik, Pezeshkian menyampaikan janji untuk membuka ruang dialog. Melalui pernyataan di media sosial, ia menyebut para menteri telah diminta memulai pembicaraan guna menampung tuntutan nyata masyarakat, sembari menyiapkan langkah reformasi di sektor moneter dan perbankan.
Namun situasi semakin kompleks dengan meningkatnya ketegangan kawasan. Pemerintah Iran memasang spanduk bernada ancaman di sejumlah titik strategis Teheran, menyasar Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di Qatar. Langkah ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan dukungan terhadap Israel apabila negara tersebut melancarkan serangan ke fasilitas nuklir atau rudal Iran.
Hingga kini, aparat keamanan masih berjaga ketat di berbagai kota besar. Meski akses internet belum sepenuhnya diputus seperti pada gelombang protes sebelumnya, suasana tetap diliputi ketegangan, dengan potensi aksi lanjutan yang belum mereda.








