KUDUS, Kaifanews – Upaya membuka lapangan kerja berbasis pendidikan nonformal terus dilakukan RS Mardi Rahayu Kudus. Salah satunya melalui Pelatihan Tenaga Pendamping Orang Sakit (NaPOS) yang kembali digelar untuk angkatan kelima, bekerja sama dengan Tim Penggerak PKK Kabupaten Kudus.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pelatihan yang dibuka secara seremonial di Gedung Filipi RS Mardi Rahayu, Senin (5/1/2026), ini berlangsung hampir satu bulan dan diberikan secara gratis. Peserta tidak hanya dibekali ilmu, tetapi juga mendapatkan uang transportasi harian sebesar Rp30 ribu.

Direktur Utama RS Mardi Rahayu, dr. Pujianto, mengatakan program NaPOS dirancang untuk mencetak tenaga pendamping pasien yang siap terjun ke dunia kerja, khususnya dalam layanan perawatan pasien di rumah atau home care.

“Peserta dilatih melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital, pemberian asupan makanan, minuman, dan obat, termasuk melalui selang atau sonde,” ujarnya.

Selain itu, peserta juga dibekali keterampilan perawatan luka sederhana, pembersihan saluran napas menggunakan alat bantu, hingga teknik memandikan pasien, termasuk bayi. Aspek etika dan sopan santun dalam merawat pasien turut menjadi penekanan utama selama pelatihan.

“Peserta harus memahami cara mencuci pakaian terkontaminasi, mengangkat pasien, memobilisasi, serta melakukan alih baring dengan benar dan aman,” tambah Pujianto.

Pelatihan ini terbuka bagi pria dan wanita berusia 20 hingga 50 tahun dengan pendidikan minimal SMP sederajat, yang telah lolos seleksi administrasi dan pemeriksaan fisik. Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi teori sekaligus praktik langsung.

Tak berhenti pada proses pelatihan, RS Mardi Rahayu juga memberikan fasilitas tambahan berupa kepesertaan BPJS Kesehatan, BP Jamsostek, serta rekomendasi dan penyaluran kerja di bawah layanan home care RS Mardi Rahayu. Para peserta ditargetkan siap bekerja mulai Februari 2026.

Ketua TP PKK Kabupaten Kudus, Endhah Samani, mengatakan pelatihan NaPOS bukan sekadar pelatihan keterampilan, melainkan disiapkan sebagai sumber penghidupan bagi para peserta. Ia menyebut pelatihan ini diharapkan menjadi samurip atau penopang ekonomi keluarga.

“Harapannya, ini menjadi sumber penghasilan bagi peserta. Kami sangat terbantu dengan RS Mardi Rahayu karena ini memang kerja sama. Pelatihan ini sangat membantu untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga,” katanya.

Menurut Endhah, peserta pelatihan berasal dari sembilan kecamatan di Kabupaten Kudus. PKK mendorong agar keterwakilan peserta merata dari seluruh wilayah tersebut.

“Kami sampaikan ke sembilan kecamatan agar bisa mengirimkan peserta. Setelah dilatih, kami bekerja sama dengan RS Mardi Rahayu supaya lulusan pelatihan ini bisa disalurkan, karena kebutuhan tenaga NaPOS itu sangat besar,” ucapnya.

Endhah menyebut pelatihan angkatan ini menjadi kloter pertama di tahun 2026. Ke depan, PKK Kudus berencana membuka kloter kedua dan ketiga setelah melihat hasil pelaksanaan awal.

“Kita awali dulu di 2026 ini. Nanti ada monitoring dan evaluasi. Kalau ada kekurangan, akan kita perbaiki bersama untuk pelatihan berikutnya,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa program NaPOS berbeda dengan pelatihan UMKM yang mendorong peserta membuka usaha sendiri. NaPOS lebih menitikberatkan pada jasa kemanusiaan yang langsung dibutuhkan masyarakat.

“Ini jasa pendampingan orang sakit. Bukan UMKM yang masak lalu jualan. Ini jasa yang memang dibutuhkan dan RS Mardi Rahayu membutuhkan tenaga-tenaga ini,” jelasnya.

Endhah berharap model pelatihan seperti ini dapat diadopsi rumah sakit lain, termasuk rumah sakit pemerintah, agar semakin banyak masyarakat yang terbantu dan memiliki akses kerja layak di bidang layanan kesehatan berbasis kemanusiaan.

Salah satu peserta, Zumaroh (46), warga Desa Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu, mengaku mengikuti pelatihan NaPOS untuk menambah keterampilan sekaligus membantu perekonomian keluarga.

“Saya ibu rumah tangga, anak empat, suami petani. Kalau nanti bisa kerja, anak-anak bisa dititipkan ke suami,” ujarnya.

Zumaroh mengaku mengetahui program tersebut dari PKK Desa Sidorekso. Pengalamannya sebagai kader posyandu mendorongnya tertarik mendalami pendampingan orang sakit secara profesional.

“Pengalaman merawat orangtua sudah ada, tapi secara profesional belum. Harapannya ikut pelatihan ini bisa nambah ilmu dan bantu ekonomi keluarga,” katanya.

Program ini diharapkan mampu menjawab dua kebutuhan sekaligus, yakni membuka peluang kerja baru bagi masyarakat Kudus serta membantu keluarga pasien yang memerlukan tenaga pendamping saat merawat anggota keluarga di rumah pasca rawat inap.