KUDUS, Kaifanews – Menjelang relokasi pedagang sayur Pasar Bitingan, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris meninjau kesiapan Pasar Saerah di kecamatan Jati, Kabupaten Kudus pada Rabu (7/1/2026).
Peninjauan dilakukan untuk memastikan seluruh sarana dan prasarana pasar siap digunakan sebelum pedagang mulai menempati lokasi baru pada Kamis (8/1/2026).
Dalam peninjauan tersebut, Bupati berdialog langsung dengan para pedagang untuk menyerap aspirasi sekaligus mengajak mereka berpartisipasi dalam proses perpindahan secara tertib dan humanis. Pemerintah Kabupaten Kudus berupaya agar relokasi ini tidak hanya menata kawasan pasar, tetapi juga memberi kenyamanan dan keamanan bagi pedagang.
Sam’ani menjelaskan, relokasi ini diperuntukkan bagi pedagang sayur yang selama ini berjualan di badan jalan Pasar Bitingan maupun yang telah mendaftar untuk menempati Pasar Saerah.
“Hari ini kita meninjau Pasar Saerah sebagai persiapan relokasi pedagang sayur. Kita berdoa bersama semoga besok bisa berjalan lancar. Kalau masih ada perbedaan pendapat, tetap kita rangkul dan komunikasikan dengan baik,” ujarnya.
Ia memastikan secara umum Pasar Saerah sudah siap digunakan, meski masih terdapat beberapa pekerjaan penyempurnaan ringan.
“Secara keseluruhan sudah siap. Tinggal finishing kecil seperti pengecatan. Insyaallah besok sudah selesai,” katanya.
Pemkab Kudus juga telah menjalin komunikasi dengan pihak swasta pengelola pasar guna menekan biaya sewa kios.
Sam’ani menyebut, pedagang dikenakan biaya sewa sebesar Rp40 ribu untuk kios swasta dan Rp17 ribu untuk los, dengan fasilitas bebas biaya listrik, keamanan, pengelolaan sampah dan masih banyak lagi. Menurutnya, relokasi ini bertujuan memberdayakan pedagang agar tidak lagi berjualan di badan jalan yang rawan hujan, mengganggu lalu lintas, dan kurang aman.
“Di sini pedagang tidak kehujanan, keamanannya lebih terjaga, dan sampah dikelola dengan baik. Harapannya Pasar Saerah bisa ramai dan interaksi jual beli berjalan baik sehingga ekonomi pedagang meningkat,” jelasnya.
Terkait pedagang yang masih menolak relokasi, Sam’ani menegaskan pendekatan persuasif akan tetap dikedepankan.
“Kita tetap humanis dan bijak. Tidak ada penertiban yang keras. Yang penting tidak mengganggu lalu lintas, ketertiban umum, dan mengikuti jam operasional. Semua akan kita komunikasikan pelan-pelan,” tegasnya.
Sementara itu, salah satu pedagang angkringan, Yuliati, mengaku telah mendapatkan nomor los di Pasar Saerah. Meski masih beradaptasi, ia berharap lokasi baru dapat memberikan kenyamanan lebih dibandingkan berjualan di pinggir jalan.
“Senang dapat tempat, meski masih menyesuaikan. Kalau di sini lebih enak, tidak kehujanan dan sudah ada listrik,” ungkapnya.
Yuliati menambahkan, meski pelanggan lama masih perlu dibangun kembali, ia optimistis Pasar Saerah dapat menjadi tempat berjualan yang lebih aman dan layak bagi pedagang.








