JAKARTA, Kaifanews — Grup band Slank kembali menjadi sorotan publik setelah merilis lagu berjudul “Republik Fufufafa” pada 28 Desember 2025, bertepatan dengan perayaan ulang tahun ke-42 mereka. Lagu tersebut langsung merangsek ke jajaran #3 Musik Trending dan mencatat 1.450.469 kali tayangan di hari perilisannya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Tak hanya ramai ditonton, lagu ini juga memicu gelombang reaksi warganet. Hingga awal Januari 2026, kolom komentar di video resmi “Republik Fufufafa” di kanal YouTube Slank telah dipenuhi 13.136 komentar, mencerminkan pro dan kontra atas pesan yang disampaikan band legendaris tersebut.

Sebagian netizen menyambut positif kembalinya Slank sebagai band yang vokal mengkritik kekuasaan. Akun @eenfatimah7804, misalnya, menulis, “Ini baru Slank yang aku kenal, yang nggak berpihak kepada penguasa, semoga tetap begini,” komentar tersebut mendapat lebih dari 2,4 ribu tanda suka dan ratusan balasan.

Nada serupa juga datang dari akun @habibahsilalahi4587 yang menulis, “Alhamdulillah Slank sudah sadar dan bangun bersuara! Jaya terus Slank,” meski komentar ini diunggah belum lama, respons positif terus berdatangan.

Namun, tidak sedikit pula komentar bernada kritis dan sinis. Akun @lintangkusumandaru7534 mengingatkan konsistensi sikap Slank dengan menulis, “Kalau memang punya nilai ideologis yang diperjuangkan, lain kali kalau ditawari jabatan secara politis, apalagi bukan kompetensinya, jangan diambil lagi.” Komentar ini mengantongi 2,6 ribu likes.

Sementara itu, akun @Sainshidup melontarkan sindiran, “Sudah habis jatah tulangnya, akhirnya sang majikan digigit juga,” yang mendapat lebih dari 1,5 ribu likes. Kritik lebih keras muncul dari @taufikzulfikar5974 yang menulis, “Tanggung jawab lo… 10 tahun rusak ada andil lo semua,” menandakan masih adanya kekecewaan publik terhadap sikap politik Slank di masa lalu.

Lirik lagu “Republik Fufufafa” sendiri dinilai menjadi pemicu utama perdebatan. Dengan penggalan lirik seperti “Aku lahir di negeri kacau balau” dan sindiran soal stunting, gizi buruk, serta “sakau kuasa”, Slank dianggap secara terang-terangan menyoroti problem struktural bangsa. Penggunaan istilah “Fufufafa” dalam judul lagu pun memancing tafsir politik, mengingat istilah tersebut sebelumnya viral dan dikaitkan dengan kontroversi jejak digital tokoh tertentu.

Kontroversi semakin meluas setelah muncul respons dari musisi lain. Kuburan Band disebut merilis lagu balasan berjudul “Tak Diberi Tulang Lagi”, yang menyindir balik Slank dan memperpanjang polemik di ruang publik.

Dari sisi visual, video klip “Republik Fufufafa” mempertegas pesan kritik sosial. Seluruh personel Slank tampil mengenakan kostum badut, yang ditafsirkan sebagai simbol sindiran terhadap elite yang dianggap sedang “bersandiwara”. Visual ketimpangan sosial, isu stunting, hingga ambisi kekuasaan ditampilkan dengan gaya sinematografi khas, hasil kolaborasi tim kreatif Kaka Daysela dan Ainun Khamdan.

Pengamat menilai lagu ini sebagai penanda pergeseran sikap politik Slank. Setelah satu dekade dikenal dekat dengan penguasa, “Republik Fufufafa” dianggap sebagai upaya Slank kembali ke peran klasiknya sebagai kontrol sosial. Respons publik yang terbelah—antara apresiasi dan kritik—menunjukkan bahwa karya ini berhasil memantik diskusi luas mengenai etika politik, tanggung jawab moral, dan posisi musisi dalam menyuarakan kegelisahan masyarakat.