KUDUS, Kaifanews – Di tengah derasnya arus modernisasi, sebuah seni tua di Desa Wonosoco, Kabupaten Kudus, masih bertahan dengan napas yang kian tipis.
Wayang Klithik: wayang kayu yang selama ratusan tahun menjadi penutur sejarah dan nilai hidup masyarakat desa kini hanya dimainkan oleh satu dalang aktif, Ki Sutikno, pewaris generasi kedelapan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Wayang Klithik Wonosoco bukan sekadar tontonan. Ia adalah media pewarisan babad desa, kisah leluhur, serta hubungan manusia dengan alam dan spiritualitas.

Berbeda dengan wayang kulit yang bertumpu pada Mahabharata atau Ramayana, kisah-kisah Wayang Klithik lahir dari memori kolektif warga Wonosoco.

“Wayang Klithik ini bukan hanya cerita. Di dalamnya ada doa, ada sejarah desa, dan ada pesan leluhur. Kalau berhenti dimainkan, semua itu bisa hilang,” ujar Ki Sutikno saat dihubungi pada Minggu 11 Januari 2026.

Namun kenyataan berkata lain. Minimnya regenerasi membuat wayang kayu ini kian terpinggirkan. Ia hanya muncul dalam momen-momen ritual seperti sedekah bumi dan merti sumber, sementara di hari-hari biasa, kelir nyaris tak pernah terpasang.

Kondisi itulah yang mendorong penggiat budaya asal Kudus, Bustomy Rifa Aljauhari, menggagas program bertajuk Sang Dalang Terakhir. Program ini dirancang untuk menyelamatkan Wayang Klithik melalui dokumentasi film, pertunjukan publik, serta ruang-ruang edukasi.

“Wayang Klithik bukan benda museum. Ini praktik budaya yang hidup, yang menyimpan pengetahuan tentang sejarah lokal, hubungan manusia dan alam, serta nilai spiritual masyarakat Jawa,” kata Bustomy.

Ia menjelaskan, Wayang Klithik memiliki hubungan kuat dengan ritual merti sumber yang selama ini dijalankan warga Wonosoco. Ritual itu bukan hanya ungkapan syukur atas mata air, tetapi juga simbol keseimbangan antara manusia dan lingkungan Pegunungan Kendeng Utara.

“Dalam konteks ini, wayang menjadi medium doa, pengingat sejarah, sekaligus sarana pendidikan moral,” lanjutnya.

Upaya pelestarian ini mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui Program Dana Indonesiana. Bustomy menilai dukungan negara penting untuk memastikan Wayang Klithik tetap memiliki ruang hidup.

“Kalau masyarakat masih datang menonton, itu tanda Wayang Klithik masih hidup. Bukan hanya sebagai arsip, tapi sebagai bagian dari kehidupan sosial,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Kudus pun ikut menaruh perhatian. Asisten II Setda Kudus, Jatmiko Muhardi Setyanto, menyebut Wayang Klithik sebagai kekayaan budaya khas daerah yang belum banyak dikenal.

“Wayang Klithik ini identitas Kudus. Harapannya bisa dikenal lebih luas dan tidak berhenti di satu generasi saja,” kata Jatmiko.

Ia menambahkan, pelestarian harus dibarengi dengan pemanfaatan teknologi dan ruang publik agar seni tradisi tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Sebagai informasi, Puncak rangkaian Sang Dalang Terakhir akan ditandai dengan pementasan Wayang Klithik Wonosoco pada Sabtu (10/1/2026) malam di Taman Padang Mbulan Wates, Undaan, Kudus.

Lakon yang dibawakan tetap berpijak pada babad lama, namun dikemas sebagai dialog dengan realitas masa kini, sebuah upaya agar suara leluhur Wonosoco terus bergema dari balik kelir wayang kayu.