KUDUS, Kaifanews – Setiap musim hujan, kawasan lereng Gunung Muria hingga dataran Pantura Jawa Tengah kerap disapu banjir dan longsor. Dampaknya terasa luas: permukiman warga tergenang, akses jalan terputus, sekolah dan aktivitas ekonomi terganggu, serta ribuan warga terdampak. Fenomena ini bukan sekadar kebetulan — ada sejumlah faktor alam dan manusia yang saling berkaitan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Curah Hujan Ekstrem dan Pengaruh Luapan Sungai

Musim hujan yang intens, terutama dari Desember 2025 hingga Januari 2026, mencatat curah hujan di banyak wilayah lereng Muria mencapai lebih dari 200–300 mm/hari. Hujan deras dalam waktu singkat tidak memberi kesempatan tanah menyerap air, sehingga sebagian besar langsung mengalir ke sungai.

Akibatnya, sungai-sungai besar seperti Sungai Dawe, Logung, Piji, Gelis, dan lainnya mengalami peningkatan debit air hingga 2–3 kali lipat dari normal, mendorong banjir meluap hingga ke dataran Pantura.

Dampak Banjir di Pantura

Di Kabupaten Kudus dan Pati, banjir melanda ratusan titik. Misalnya:

  • Desa Bulumanis Kidul (Margoyoso): Ratusan rumah warga tergenang air banjir setinggi 20–40 cm.
  • Desa Tunjungrejo: Puluhan rumah terdampak banjir dengan genangan mencapai 30–50 cm.
  • Di wilayah Pati Kota, jumlah desa terdampak mencapai puluhan desa, memengaruhi ribuan jiwa.

Banjir di Pantura tidak hanya karena hujan lokal. Banyak banjir merupakan banjir kiriman dari hulu Muria akibat sungai meluap.

Longsor di Lereng Muria

Longsor terbesar terjadi di wilayah lereng dengan kontur curam, seperti Desa Tempur (Jepara), Desa Japan dan Kuwukan (Kudus), serta Desa Gunungsari (Pati). Catatan BPBD mencatat:

  • Desa Tempur (Jepara): Puluhan titik longsor besar menutup jalur utama, banyak di antaranya dengan material lebih dari 1 meter tebalnya.
  • Desa Japan – Kecamatan Dawe (Kudus): ±24 titik longsor terjadi, dengan beberapa titik membuat rumah warga rusak.
  • Desa Kuwukan (Kudus): ±20 titik longsor, melibatkan ±6 rumah warga.
  • Desa Gunungsari (Pati): Sekitar 13 titik longsor menutup akses jalan utama.

Tanah jenuh akibat hujan berkepanjangan menjadi faktor dominan terjadinya longsor. Ketika tanah menyerap air hingga jenuh, daya rekat partikel tanah menurun drastis, sehingga tebing dan lereng menjadi sangat rentan runtuh.

Faktor Geologi dan Tata Ruang

Kawasan Muria merupakan wilayah yang memiliki kontur perbukitan dengan jenis tanah yang relatif mudah tergerus saat jenuh air. Sementara itu, Pantura didominasi dataran rendah dengan sungai-sungai besar yang membawa limpasan dari hulu Muria. Ketika debit air meningkat tajam dan sungai dangkal akibat sedimen, luapan air menjadi tak terelakkan.

Kaitannya dengan Aktivitas Manusia

Aktivitas pembangunan yang kurang mempertimbangkan tata ruang dan konservasi lingkungan turut memperburuk risiko bencana:

  • Alih fungsi lahan pertanian menjadi permukiman membuat daya resap tanah berkurang.
  • Penebangan vegetasi lereng dan bantaran sungai mengurangi kemampuan tanah menahan air.
  • Saluran drainase yang tersumbat sampah dan sedimen di kawasan kota/kampung memicu genangan lokal.

Peran Drainase dan Infrastruktur

Di area kota dan permukiman dataran rendah, drainase yang kurang optimal — terutama saat tersumbat — memperparah genangan air. Di kawasan pinggiran sungai, sedimentasi membuat kanal sungai dangkal sehingga sungai lebih cepat meluap saat hujan deras.

Risiko Bencana yang Berkelanjutan

Fenomena banjir dan longsor akan tetap berulang jika penanganan hanya bersifat reaktif. Untuk mengurangi risiko dalam jangka panjang, beberapa langkah penting diperlukan:

  • Pelestarian vegetasi di hulu dan lereng
  • Normalisasi sungai dengan sedimentasi terkendali
  • Penguatan drainase di kawasan permukiman
  • Penataan ruang berbasis peta risiko bencana
  • Peringatan dini dan kesiapsiagaan warga

Musim hujan merupakan siklus alam yang tak terelakkan. Namun dengan pendekatan terpadu antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan pelaku pembangunan, risiko banjir dan longsor di kawasan Muria dan Pantura bisa ditekan. Perubahan iklim mungkin mempercepat intensitas hujan, tetapi kesiapsiagaan dan pengelolaan lingkungan yang baik dapat mengurangi dampak bencana secara efektif.