TEHERAN, Kaifanews– Situasi domestik Iran kembali memanas setelah tekanan ekonomi yang berkepanjangan memicu keresahan luas di tengah masyarakat. Merosotnya nilai mata uang nasional serta lonjakan inflasi yang tak terkendali telah menggerus kemampuan warga memenuhi kebutuhan sehari-hari, memicu gelombang demonstrasi yang terus meluas sejak beberapa hari terakhir.
Aksi unjuk rasa dilaporkan muncul di berbagai kota, termasuk ibu kota Teheran. Sejumlah laporan menyebutkan terjadinya bentrokan antara massa dan aparat keamanan, disertai kerusakan fasilitas publik serta kebakaran di beberapa titik. Pemerintah Iran merespons eskalasi ini dengan memperketat pengamanan, termasuk pembatasan arus informasi.
Sejak Kamis (8/1/2026), otoritas memberlakukan pemadaman internet di sejumlah wilayah. Namun, langkah tersebut dinilai belum efektif meredam protes. Rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan ribuan warga masih memadati jalan-jalan utama Teheran hingga Sabtu pagi.
Dari luar negeri, Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut menyoroti situasi tersebut. Ia menyatakan dukungan terhadap para demonstran dan menyampaikan kesiapan AS untuk memberikan bantuan, sembari memperingatkan pemerintah Iran agar tidak menggunakan kekerasan berlebihan terhadap warganya.
Gelombang protes ini disebut bukan reaksi sesaat. Tekanan ekonomi yang terus memburuk telah lama membebani masyarakat Iran. Penurunan daya beli, kenaikan harga kebutuhan pokok, serta ketidakpastian ekonomi menciptakan akumulasi ketidakpuasan yang kini meledak ke ruang publik.
Salah satu pemicu utama adalah kejatuhan tajam nilai tukar rial. Pada akhir Desember 2025, mata uang Iran itu tercatat menyentuh titik terlemah sepanjang sejarah, mencapai sekitar 1,4 juta rial per dolar AS di pasar terbuka. Data perdagangan Jumat (9/1/2026) menunjukkan nilai tukar masih berada di kisaran IRR 1.000.010 per dolar AS. Angka ini jauh dibandingkan awal tahun 2026, ketika rial sempat berada di kisaran IRR 42.000 per dolar AS, menandai pelemahan lebih dari 2.200 persen secara year to date.
Di tengah inflasi tinggi, permintaan terhadap dolar AS dan emas melonjak tajam. Rumah tangga maupun pelaku usaha berlomba mengalihkan tabungan mereka ke aset yang dianggap lebih aman. Kondisi ini memperburuk tekanan terhadap rial, mengingat banyak harga barang di Iran bergantung langsung maupun tidak langsung pada nilai tukar dolar.
Ekonom Mohammad Kohandal, seperti dikutip Tasnim News Agency, menilai stabilitas mata uang sulit dicapai selama inflasi masih menjadi masalah struktural dalam perekonomian Iran.
Faktor eksternal turut memperparah situasi. Sanksi internasional terkait program nuklir membatasi ekspor minyak dan mempersempit akses Iran ke sistem perbankan global. Akibatnya, pasokan valuta asing menjadi semakin terbatas. Kebijakan domestik juga dinilai menambah tekanan, termasuk keputusan pemerintah pada Desember 2025 yang mengizinkan importir bahan pokok mengakses pasar valuta asing terbuka, bukan jalur bersubsidi.
Di sisi lain, inflasi terus merangkak naik. Pusat Statistik Iran mencatat inflasi tahunan pada akhir Desember mencapai 42,2 persen, sementara inflasi tahunan berbasis poin ke poin menyentuh 52,6 persen, meningkat 3,2 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Lonjakan harga yang berkelanjutan mendorong masyarakat semakin agresif mencari perlindungan nilai, yang justru mempercepat pelemahan rial.
Ketidakpastian geopolitik ikut menambah kekhawatiran pasar. Risiko eskalasi konflik regional, mandeknya diplomasi nuklir, serta peringatan pejabat Iran terkait potensi sanksi tambahan dari Barat memperkuat sentimen negatif. Kekhawatiran akan semakin sulitnya akses valuta asing membuat kepercayaan terhadap perekonomian Iran kian tergerus.
Dampak krisis ini dirasakan langsung oleh masyarakat. Harga bahan pangan seperti beras, minyak goreng, dan daging melonjak drastis. Biaya obat-obatan dan kebutuhan medis impor ikut terkerek naik. Para pedagang kesulitan menjaga stabilitas harga karena biaya pengadaan barang baru jauh lebih mahal, meningkatkan risiko kerugian dan kelangkaan pasokan di pasar domestik.








