Kaifanews – BANJIR tidak hanya merusak infrastruktur dan memutus akses kehidupan sehari-hari. Di wilayah lereng Gunung Muria hingga pesisir Pantura Jawa Tengah, banjir musiman kerap diikuti ancaman penyakit pascagenangan akibat buruknya sanitasi, limpasan sungai, serta padatnya permukiman di daerah rawan banjir. Mengantisipasi risiko kesehatan ini menjadi krusial untuk mencegah kejadian luar biasa (KLB).
Penyakit yang Rentan Muncul saat Banjir dan Pascabanjir
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, kasus penyakit berbasis lingkungan seperti ISPA, diare, penyakit kulit, dan demam berdarah selalu meningkat setelah kejadian banjir, terutama di wilayah Pantura dan daerah aliran sungai (DAS) Muria.
Di Kabupaten Kudus, Dinkes mencatat peningkatan kasus ISPA hingga 18–25 persen pada periode dua hingga tiga pekan setelah banjir besar awal tahun. Sementara di Pati dan Demak, laporan puskesmas menunjukkan lonjakan diare akut hingga 20 persen, terutama pada balita dan lansia.
Adapun leptospirosis menjadi penyakit yang paling diwaspadai di wilayah Pantura. Pada musim hujan 2024–2025, Jawa Tengah tercatat sebagai salah satu provinsi dengan kasus leptospirosis tertinggi secara nasional, dengan Puluhan kasus ditemukan di Pati, Kudus, dan Demak, sebagian di antaranya berujung fatal.
Beberapa penyakit utama pascabanjir di wilayah Muria–Pantura antara lain:
1. Leptospirosis
Menular melalui air banjir yang tercemar urin tikus. Risiko tinggi di permukiman padat, pasar tradisional, dan area sawah pascabanjir.
2. Diare dan tifoid
Disebabkan konsumsi air bersih yang tercemar. BPOM Jawa Tengah mencatat banyak sumber air sumur warga Pantura terkontaminasi bakteri E. coli setelah banjir.
3. Demam berdarah dengue (DBD)
Genangan air sisa banjir meningkatkan populasi nyamuk Aedes aegypti. Dinkes Jateng mencatat kasus DBD cenderung meningkat 3–4 minggu setelah banjir.
4. Infeksi kulit dan jamur
Sering terjadi pada warga yang lama terpapar air kotor, terutama petani, relawan, dan anak-anak.
5. ISPA
Lingkungan lembap, hunian sementara, serta kualitas udara buruk memicu gangguan pernapasan, terutama pada anak dan lansia.
Waktu Kritis Pascabanjir
Tenaga kesehatan di wilayah Pantura menyebut 2 hingga 30 hari setelah banjir sebagai masa paling rawan munculnya penyakit.
Leptospirosis dan diare biasanya mulai terdeteksi pada minggu kedua, sementara DBD meningkat pada minggu ketiga hingga keempat.
Cara Efektif Mencegah Penyakit Pascabanjir
Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus dan Pati merekomendasikan langkah-langkah pencegahan berikut:
1. Gunakan alat pelindung saat membersihkan sisa banjir
Sepatu bot dan sarung tangan penting untuk mencegah leptospirosis.
2. Pastikan air minum aman
Air sumur wajib direbus minimal 5–10 menit. Bila memungkinkan, gunakan air galon atau bantuan air bersih dari BPBD.
3. Perkuat PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat)
Cuci tangan pakai sabun, terutama setelah dari luar rumah atau kontak dengan lumpur banjir.
4. Waspadai luka kecil
Luka lecet harus segera dibersihkan dan ditutup karena menjadi pintu masuk bakteri.
5. Pemberantasan sarang nyamuk (PSN)
Menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas wajib dilakukan setelah air surut.
6. Segera periksa ke fasilitas kesehatan
Warga diminta segera ke puskesmas jika mengalami demam tinggi, nyeri betis, diare terus-menerus, atau sesak napas.
Pentingnya Tindak Lanjut
Pemerintah daerah di wilayah Muria–Pantura diminta memperkuat surveilans penyakit, distribusi air bersih, serta edukasi masyarakat. Penanganan pascabanjir yang terintegrasi antara BPBD, Dinkes, dan pemerintah desa terbukti efektif menekan lonjakan penyakit berbasis lingkungan.








