KUDUS, Kaifanews — Kerusakan tanggul di sepanjang aliran Sungai Dawe kembali memicu kekhawatiran warga. Di Desa Golantepus, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, sejumlah titik tanggul dilaporkan mengalami jebol dan longsor, sehingga menyebabkan banjir bertahan hingga beberapa hari terakhir.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Kudus, Eko Hari Djatmiko, menyebut kerusakan tanggul tidak hanya terjadi di Sungai Dawe, tetapi hampir merata di berbagai aliran sungai di wilayah Kudus. Dari hasil pendataan sementara, tercatat lebih dari 30 titik tanggul mengalami kerusakan dengan tingkat keparahan berbeda-beda.

“Untuk wilayah Kabupaten Kudus secara menyeluruh, baik di sungai besar maupun sungai kecil, terdapat kurang lebih 30-an titik kerusakan tanggul. Di sungai besar seperti Piji, Dawe, dan beberapa lainnya, itu yang menjadi perhatian utama,” ujar Eko saat meninjau lokasi.

Ia merinci, khusus Sungai Piji di wilayah Mejobo terdapat lima titik tanggul rusak, sementara di Sungai Dawe tercatat tiga titik besar. Selain itu, longsoran juga terjadi di Sungai Kaligelis pada dua titik, serta di wilayah Colo yang mengalami kerusakan cukup parah di dekat jembatan.

“Untuk kerusakan-kerusakan kecil, Alhamdulillah sudah bisa ditangani secara gotong royong oleh pemerintah desa bersama masyarakat. Tapi untuk tanggul besar, kami libatkan PUPR, BBWS, dan instansi terkait lainnya,” jelasnya.

Di tengah kondisi tersebut, jumlah warga terdampak banjir masih cukup tinggi. Hingga Jumat pagi, BPBD mencatat sebanyak 1.822 warga masih berada di pengungsian yang tersebar di 11 titik, dengan dukungan 14 dapur umum yang beroperasi untuk memenuhi kebutuhan logistik para pengungsi.

Sementara itu, Kepala Desa Golantepus, Nur Taufiq, mengungkapkan wilayahnya menjadi salah satu yang paling terdampak akibat rusaknya tanggul Sungai Dawe. Desa Golantepus bahkan sempat terendam banjir selama lima hari.

“Alhamdulillah hari ini sudah tertangani. Ini berkat kerja keras semua pihak, mulai dari BBWS, PUPR, BPBD, hingga relawan. Tapi yang paling saya banggakan adalah warga Golantepus sendiri. Kerja bakti warga luar biasa,” ungkapnya.

Menurut Nur Taufiq, jumlah titik kerusakan tanggul di Sungai Dawe yang melintasi wilayah Golantepus cukup banyak. Ia memperkirakan terdapat sekitar sembilan hingga sepuluh titik rawan yang perlu penanganan serius.

“Besok pagi kami rencanakan kerja bakti lagi di empat titik. Sebelumnya juga sudah ada kerja bakti di beberapa lokasi, termasuk di area pemakaman dan dekat jembatan,” ujarnya.

Ia menyebut salah satu titik terparah memiliki lebar kerusakan mencapai 10 hingga 15 meter, akibat limpasan air sungai yang cukup deras saat hujan lebat. Kondisi tersebut diperparah dengan masih banyaknya tanggul yang belum dipermanenkan.

“Kalau ditanya mana yang paling rawan, hampir semuanya rawan. Karena masih banyak tanggul yang belum dipermanenkan. Panjang sungai kami cukup panjang, jadi perbaikannya dilakukan bertahap,” jelasnya.

Meski demikian, Nur Taufiq menegaskan pihak desa terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk percepatan penanganan. Ia berharap ke depan pembangunan tanggul bisa dilakukan secara menyeluruh agar ancaman banjir tidak terus berulang.

“Support dari instansi sudah ada, tinggal bagaimana ke depan bisa ditingkatkan dan dipermanenkan. Harapan kami, warga bisa merasa lebih aman,” tandasnya