KUDUS, Kaifanews – Pemerintah Kabupaten Kudus mulai memberi perhatian serius pada pemulihan kondisi psikologis para korban banjir, terutama anak-anak yang terpaksa tinggal di pengungsian selama beberapa hari terakhir.
Upaya itu diwujudkan melalui kegiatan terapi pemulihan trauma (trauma healing) bersama RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus yang digelar di Aula DPRD Kudus, Senin (19/1/2026) malam.
Kegiatan tersebut menyasar ratusan pengungsi dari sejumlah dukuh terdampak banjir, dengan jumlah pengungsi mencapai sekitar 900 orang.
Dari jumlah tersebut, sekitar 150 di antaranya merupakan anak-anak yang dinilai rentan mengalami trauma akibat bencana.
Wakil Bupati Kudus, Bellinda Putri Sabrina Birton, meninjau langsung pelaksanaan kegiatan terapi healing yang melibatkan tim psikolog klinis dan tenaga kesehatan.
Anak-anak diajak mengikuti berbagai aktivitas positif, mulai dari bermain hingga memainkan permainan edukatif yang dirancang untuk mengalihkan rasa takut dan kejenuhan selama berada di pengungsian.
“Kami ingin memastikan kondisi mental para pengungsi, terutama anak-anak, tetap terjaga. Mereka kami ajak bermain, beraktivitas positif, supaya tidak jenuh dan tidak mengalami trauma berkepanjangan,” ujar Bellinda di sela peninjauan.
Menurutnya, pendampingan psikolog menjadi bagian penting dalam penanganan bencana, karena dampak banjir tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga mental dan emosional.
“Dengan pendampingan psikolog, anak-anak bisa menyalurkan emosinya dengan cara yang positif. Harapannya, mereka tetap ceria meski berada di pengungsian,” lanjutnya.
Selain terapi healing, Bellinda memastikan kebutuhan dasar pengungsi dalam kondisi aman. Stok logistik, makanan, dan layanan kesehatan disebut masih mencukupi untuk seluruh pengungsi yang ada di lokasi.
“Untuk kebutuhan pokok, Alhamdulillah aman. Kesehatan juga terpantau, tenaga medis dari puskesmas dan rumah sakit siap siaga,” katanya.
Meski demikian, Bellinda mengakui masih ada beberapa kebutuhan mendesak yang perlu segera dipenuhi, salah satunya pakaian ganti bagi para pengungsi.
“Keluhan yang kami terima saat ini adalah kekurangan baju ganti. Ini akan segera kami tindak lanjuti dengan membuka donasi pakaian layak pakai,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan bencana, mulai dari tenaga kesehatan, relawan, hingga berbagai stakeholder yang ikut membantu menyediakan bantuan logistik seperti sembako, popok bayi, dan kebutuhan lainnya.
“Kami berterima kasih kepada semua pihak yang bergerak bersama. Semoga kegiatan ini bisa membantu pemulihan mental para pengungsi, dan banjir segera surut agar masyarakat bisa kembali ke rumah masing-masing,” pungkas Bellinda.








