KUDUS, Kaifanews — Banjir yang melanda Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, belum sepenuhnya surut. Hingga kini, genangan air masih merendam 38 desa di tujuh kecamatan. Meski di sejumlah permukiman air mulai berangsur turun, lahan pertanian warga masih tergenang, sementara sebagian warga yang memilih bertahan di rumah mulai mengeluhkan menipisnya stok logistik.
Salah satu wilayah terparah berada di Dukuh Tanggulangin, Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati. Hampir sepekan banjir merendam kawasan tersebut. Akses aktivitas warga pun terganggu, termasuk untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Siti Kusmiyati, warga Dukuh Tanggulangin, mengaku persediaan bahan makanan di rumahnya kini hanya cukup untuk dua hingga tiga hari ke depan.
Ia memilih bertahan di rumah bersama tiga anaknya, salah satunya masih balita. Hingga saat ini, ia menyebut belum menerima bantuan logistik.
“Stok di rumah tinggal sedikit. Kami masih bertahan karena anak-anak, tapi sampai sekarang belum dapat bantuan,” ungkapnya.
Keluhan serupa disampaikan Iwan Saefullah, warga setempat lainnya. Demi memenuhi kebutuhan makan keluarga, ia terpaksa menerjang genangan air setinggi sekitar 80 sentimeter. Kondisi banjir juga membuatnya tidak bisa berangkat bekerja.
“Kalau mau cari makan harus nekat lewat air. Kerja juga tidak bisa karena banjir,” katanya.
Warga yang bertahan di rumah berharap adanya perhatian dan distribusi bantuan yang lebih merata. Mereka khawatir, jika banjir belum surut dalam waktu dekat, kebutuhan dasar akan semakin sulit dipenuhi.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus, banjir akibat curah hujan tinggi dan luapan sejumlah sungai telah berdampak pada sekitar 23 ribu warga.
Sebanyak 1.500 warga terpaksa mengungsi dan tersebar di 14 titik pengungsian. Pemerintah daerah dan tim penanggulangan bencana terus melakukan upaya penanganan serta pendistribusian bantuan bagi warga terdampak.








