Kaifanews.com – Harga emas terus menunjukkan tren penguatan tajam dalam enam bulan terakhir, didorong oleh meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, inflasi tinggi, serta ketegangan geopolitik di berbagai kawasan dunia. Kondisi tersebut menempatkan emas kembali sebagai aset safe haven yang paling diburu investor.
Hingga Januari 2026, harga emas—baik di pasar global maupun domestik—berulang kali mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah (all time high). Di Indonesia, harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) melonjak agresif, hampir menyentuh level Rp2,9 juta per gram.
Berdasarkan data historis enam bulan terakhir, harga emas Antam mengalami kenaikan signifikan dari kisaran Rp1,9 juta per gram pada Agustus 2025 menjadi Rp2,79–Rp2,887 juta per gram pada Januari 2026. Rekor tertinggi tercatat pada 24 Januari 2026, menandai lonjakan lebih dari 45 persen hanya dalam setengah tahun.
Pada Agustus 2025, harga emas Antam mulai menembus level psikologis Rp2 juta per gram. Tren penguatan berlanjut pada September 2025 seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global. Memasuki Oktober 2025, harga emas bergerak konsolidatif di level tinggi sebelum kembali melonjak tajam pada November 2025, dipicu oleh memanasnya situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Kenaikan berlanjut hingga akhir tahun 2025, dengan harga emas Antam ditutup di kisaran Rp2,55–Rp2,6 juta per gram pada Desember, mencatatkan kenaikan tahunan sekitar 65 persen. Tren bullish tersebut berlanjut pada Januari 2026, ketika emas kembali mencetak rekor baru.
Penguatan harga emas dipicu oleh sejumlah faktor utama. Pertama, posisi emas sebagai aset lindung nilai saat ketidakpastian ekonomi dan risiko resesi global meningkat. Kedua, tingginya inflasi di berbagai negara membuat investor beralih ke emas untuk menjaga daya beli kekayaan mereka.
Selain itu, melemahnya nilai tukar dolar Amerika Serikat turut mendorong kenaikan harga emas, mengingat keduanya memiliki hubungan terbalik. Ketegangan geopolitik global juga memperkuat sentimen positif terhadap emas sebagai aset aman.
Permintaan emas dari bank sentral berbagai negara yang meningkatkan cadangan devisa dalam bentuk emas turut memperketat pasar. Di sisi lain, pasokan emas fisik yang terbatas serta meningkatnya biaya produksi tambang membuat suplai global tidak mampu mengimbangi lonjakan permintaan.
Faktor tambahan lainnya adalah tren penurunan suku bunga global, yang membuat instrumen investasi berbunga seperti deposito dan obligasi kurang menarik dibandingkan emas yang bersifat bebas risiko kredit.
Dengan berbagai sentimen tersebut, analis menilai harga emas masih berpotensi bertahan di level tinggi sepanjang 2026, meski tetap disertai volatilitas mengikuti dinamika ekonomi dan geopolitik global.








