KUDUS, Kaifanews — Riuh Pasar Baru Kudus mulai menggeliat sejak pagi, namun di salah satu sudutnya, Heru Sahuri lebih sering duduk menunggu. Sejak pukul delapan pagi, lelaki berusia paruh baya itu telah bersiap di atas becak listriknya. Kadang ia pulang menjelang siang, bukan karena target tercapai, melainkan karena penumpang tak kunjung datang.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Heru kini menetap di Desa Gribig, RT 3 RW 4, mengikuti sang istri. Kampung halamannya berada di Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Sudah sebulan terakhir ia menggantungkan hidup pada becak listrik, meninggalkan becak kayuh yang selama bertahun-tahun menjadi sumber penghidupan.

“Sehari paling dapat empat atau lima penumpang. Kadang malah nggak dapat sama sekali,” kata Heru, Selasa (27/1/2026).

Setiap malam, becak listrik itu ia isi daya. Pagi hari siap digunakan, meski jarak tempuhnya terbatas. Rute yang dilayani biasanya jarak dekat, sekadar dari Pasar Baru ke kampung sekitar. Untuk sekali jalan, Heru mematok tarif sekitar Rp7 ribu. Tak jarang, ia membiarkan penumpang membayar seikhlasnya.

Perjalanan jauh jarang ia ambil. Namun ada satu kisah yang masih melekat kuat di ingatannya. Suatu hari, seorang tamu dari Makassar memintanya berkeliling Kota Kudus untuk berziarah ke sejumlah makam.

“Saya muter kota, antar ziarah. Dikasih Rp150 ribu. Baru sekali itu,” ujarnya sambil tersenyum tipis.

Dibanding becak kayuh, kendaraan listrik yang kini digunakannya lebih lapang dan ringan. Tenaganya tak lagi menguras fisik. Namun Heru mengakui, ada rasa yang berbeda.

“Dulu capek, tapi badan sehat. Sekarang nggak capek, tapi ya beda rasanya,” katanya.

Becak kayuh lamanya masih tersimpan di rumah. Meski pernah ada yang menawar, Heru memilih mempertahankannya. Becak itu bukan sekadar alat kerja, melainkan saksi perjalanan hidup.

“Itu kenang-kenangan,” ucapnya singkat.

Hari-hari Heru kerap berjalan tanpa kepastian. Ada waktu ia pulang tanpa membawa uang sepeser pun. Beberapa rekan sesama tukang becak memilih berkeliling mencari penumpang, sementara Heru bertahan di satu titik, pasrah menunggu.

“Rezeki ya seikhlasnya saja,” tuturnya.

Di tengah modernisasi transportasi yang kian cepat dan beragam, Heru Sahuri tetap setia pada jalannya. Becak listrik baginya bukan sekadar kendaraan, melainkan simbol perjuangan untuk bertahan hidup, menjaga martabat, dan terus berharap.

Di sudut Pasar Baru Kudus, Heru kembali duduk menanti. Penumpang bisa datang, bisa juga tidak. Namun harapan, baginya, tak pernah benar-benar berhenti.