Kaifanews – Bek sayap Timnas Indonesia, Shayne Pattynama, memberikan analisis tajam mengenai jurang kualitas serta perbedaan gaya permainan antara kompetisi di Eropa, Thailand, dan Indonesia berdasarkan pengalaman profesionalnya melanglang buana di berbagai liga tersebut.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Dalam sebuah wawancara mendalam yang diunggah Liputan6 pada Minggu (22/2), pemain yang kini merumput di KAS Eupen tersebut mengungkapkan bahwa perbedaan fundamental tidak hanya terletak pada kemampuan individu pemain, melainkan pada kedisiplinan taktis dan intensitas permainan yang jauh lebih stabil di benua biru dibandingkan kompetisi di Asia Tenggara.

Penjelasan Pattynama ini menjadi refleksi penting bagi pemangku kepentingan sepak bola nasional untuk memahami standar yang diperlukan guna mengangkat derajat Liga 1 agar mampu bersaing di level yang lebih tinggi secara konsisten.

Shayne Pattynama menekankan bahwa bermain di Eropa menuntut konsentrasi penuh selama 90 menit tanpa celah kesalahan taktis sedikitpun. Menurutnya, transisi permainan dari bertahan ke menyerang di Eropa dilakukan dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Ia melihat adanya perbedaan yang cukup signifikan ketika membandingkan Liga Thailand dengan Liga 1 Indonesia, terutama dari sisi organisasi permainan. Shayne menilai Liga Thailand saat ini sedikit lebih unggul dalam hal struktur kepelatihan dan fasilitas pendukung.

“Di Eropa, jika Anda kehilangan posisi atau terlambat melakukan transisi satu detik saja, lawan akan langsung menghukum Anda. Kedisiplinan taktis di sana berada pada level yang sangat berbeda, semua pemain tahu persis ke mana harus bergerak di setiap fase pertandingan,” ujar Shayne Pattynama.

Mengenai Liga Indonesia, Shayne tidak menampik bahwa talenta individu pemain lokal sangat luar biasa dan penuh energi. Namun, ia menyoroti bahwa intensitas permainan di Indonesia seringkali tidak stabil sepanjang pertandingan karena kendala fisik dan pemahaman strategi.

“Indonesia punya banyak pemain berbakat dengan teknik individu yang hebat, tapi terkadang permainannya terlalu terbuka dan kurang terorganisir. Di Thailand, saya melihat liga mereka sudah mulai mencoba mendekati standar profesionalisme yang lebih rapi dalam hal organisasi tim di lapangan,” lanjut bek berusia 27 tahun tersebut.

Shayne juga menekankan pentingnya bagi pemain Indonesia untuk berani berkarier di luar negeri guna merasakan atmosfer kompetisi yang lebih ketat. Baginya, terpapar pada budaya sepak bola yang berbeda akan secara otomatis meningkatkan kualitas mental dan pengambilan keputusan pemain.

“Penting bagi para pemain muda untuk keluar dari zona nyaman; di Eropa, setiap sesi latihan terasa seperti pertandingan hidup dan mati. Jika sepak bola Indonesia ingin maju, standar latihan dan kedisiplinan di liga domestik harus terus dipompa hingga mendekati standar internasional,” tegas Pattynama.

Ia menutup wawancara dengan pesan optimis bahwa Timnas Indonesia saat ini sudah berada di jalur yang benar berkat kombinasi pemain yang berkarier di luar negeri dan peningkatan kualitas liga lokal. Shayne berharap masukan objektif darinya dapat menjadi pemacu semangat bagi pengembangan sepak bola di tanah air