KUDUS, Kaifanews – Sedulur Maiyah Kudus menggelar Semak’an Edisi 101 bertajuk “Syawalan Salaman” pada Sabtu malam, 11 April 2026 di Pesanggrahan Suro Legowo, Musholla Tradisional Mahabbatul Auliya’, Kedungdowo, Kaliwungu. Acara ini menjadi ruang perjumpaan tiga entitas jamaah: Sedulur Maiyah Kudus, Majelis Mahabbatul Auliya, dan Grup Band/Komunitas Musisi Suro Legowo.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Sedulur Maiyah sendiri adalah sebutan untuk jemaah yang tergabung dalam komunitas Maiyah, wadah silaturahmi yang diinisiasi oleh Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), dan ada atau tanpa adanya Cak Nun, komunitas itu aktif melingkar berdiskusi ringan tentang kemanusiaan, spiritualitas, dan hal lain yang menyentuh dimensi filsafat.

Pegiat Sedulur Maiyah Kudus, Kang Aan, kepada Kaifanews menuturkan awal mula gagasan acara ini.

“Jadi, beberapa bulan lalu tepatnya Ramadan, beberapa sedulur maiyah bertemu dengan seorang pegiat majelis yakni Sofyan Ahmad Sufi, pengasuh Majelis Mahabbatul Auliya sekaligus penggerak grup band/komunitas musisi Suro Legowo. Yang ternyata mulai menggarap nomor-nomor lagi dari Kiai Kanjeng, atau Kanjengan,” ungkapnya.

Menurut Kang Aan, langkah sambung rasa ini terinspirasi dari tradisi Mbah Nun (Emha Ainun Najib).

“Lantas, dari tradisi Mbah Nun yang mempersedulurkan jamaah. Yang meneruskan tradisi Kanjeng Nabi yakni mempersaudarakan Anshor dan Muhajirin. Maka, dirasa perlu untuk sambung rasa dengan Majelis Mahabbatul Auliya dan Suro Legowo, secara sama-sama terhubung dengan frekuensi ‘Cak Nun’,” jelasnya.

Terkait pemilihan lokasi, Kang Aan menyebut hal itu bagian dari tradisi tandang Semak’an sekaligus perkenalan.

“Musholla Suro Legowo dipilih sebagai tempat tandang acara halbi Semak’an dengan tema Syawalan Salaman. Sebagai perkenalan, yang mempertemukan tiga entitas jamaah, Maiyah Kudus, Band Suro Legowo dan Majelis Mahabbatul Auliya,” katanya.

“Meskipun dalam banyak kegiatan Maiyahan ini kami mengambil tempat di serambi atau teras Museum Kretek, tapi karena malam ini berbeda dari sebelumnya dan tidak menutup kemungkinan lokasi lain juga bisa kami jadikan tempat melingkar berdiskusi,” imbuhnya.

Acara yang dijadwalkan pukul 20.00 WIB mengalami penyesuaian karena cuaca.

“Acara berlangsung mulai jam 21. Dikarenakan hujan yang mengguyur Kudus,” ujar Kang Aan.

Rangkaian diawali dengan munajatan, lalu dilanjut saling memperkenalkan masing-masing juru bicara dari tiga komunitas.

“Dalam perkenalan, secara tidak langsung menjadi proses saling ngangsu kawruh, sehingga acara sinau bareng berjalan dengan sangat guyub,” imbuhnya.

Beberapa Pemantik seperti Pak Iwan juga turut hadir membersamai para Sedulur Maiyah Kudus yang melingkar pada malam itu dengan diisi oleh Legowo.

“Kegembiraan diisi oleh Band Suro Legowo. Menurut penuturan Mas Imbe, band paket hemat, karena tidak semua personil dapat hadir. Namun tidak mengurangi nuansa magis sholawat yang dilantunkan untuk lagu pembuka. Dua nomor lagu cukup mengisi jeda dan intermezzo, dari pembahasan yang sedikit serius,” tutur Kang Aan.

Ia menegaskan pesan utama dari pertemuan tersebut.

“Pesan inti acara, yakni ke depan semoga terjadi kolaborasi sinau bareng dengan komunitas dan Majelis Mahabbatul Auliya dan Band Suro Legowo,” tegasnya.

Diskusi malam itu, kata dia, berhenti lebih awal karena jamuan makan malam bersama sudah tersedia.

“Pukul 23.15 WIB acara ditutup dengan ramah tamah, dan dilanjut dengan sarasehan keakraban yang diiringi oleh Band Suro Legowo. Lagu-lagu hits dan ‘ambyar’ berlangsung hingga pukul 02.00 dini hari,” pungkas Kang Aan. (*)