KUDUS, Kaifanews – Nama Kabupaten Kudus di Jawa Tengah ternyata menyimpan jejak sejarah panjang yang berkaitan dengan peradaban Islam dunia. Salah satu fakta menarik yang banyak dibahas adalah asal-usul nama (Kudus) yang diyakini terinspirasi dari kata Al-Quds, sebutan untuk kota suci Yerusalem.
Secara etimologis, kata Al-Quds dalam bahasa Arab berarti (suci). Makna tersebut kemudian diadopsi menjadi Kudus, yang dalam bahasa Indonesia juga memiliki arti serupa, yakni suci atau bersih. Penamaan ini tidak lepas dari peran tokoh penting dalam sejarah penyebaran Islam di Jawa, yakni Sunan Kudus.
Menurut catatan sejarah, Sunan Kudus yang memiliki nama asli Ja’far Shadiq merupakan salah satu anggota Wali Songo yang berperan besar dalam dakwah Islam di wilayah pesisir utara Jawa. Ia dikenal memiliki wawasan luas dan diyakini pernah melakukan perjalanan hingga ke Timur Tengah.
Sunan Kudus atau Ja’far Shoddiq dikenal sebagai ulama yang memiliki wawasan luas serta piawai dalam berdiplomasi. Berkat kemampuan tersebut, ia dipercaya memimpin jemaah haji dan memperoleh gelar Amir Haji, yakni sebutan bagi pemimpin yang bertanggung jawab atas rombongan jemaah haji. Dalam sejumlah kisah, Ja’far Shoddiq juga disebut pernah bermukim di Baitul Maqdis atau Yerusalem untuk memperdalam ajaran Islam.
Pada masa itu, wilayah tempat ia tinggal dilanda wabah penyakit yang menelan banyak korban jiwa. wabah tersebut pun berhasil ditangani dan diberantas berkat bantuan Ja’far Shoddiq.. Atas jasanya, seorang pemimpin di Palestina pada saat itu memberikan penghargaan berupa wewenang atas suatu wilayah. Pemberian tersebut kemudian diabadikan dalam sebuah prasasti berhuruf Arab kuno yang hingga kini masih dapat dijumpai di mihrab Masjid Menara Kudus.
Selanjutnya, Ja’far Shoddiq mengajukan permohonan kepada pemimpin tersebut agar wewenang wilayah itu dipindahkan ke Pulau Jawa. Permintaan itu dikabulkan, dan ia pun kembali ke tanah Jawa. Di sana, ia mendirikan masjid di wilayah Kudus sekitar tahun 1548 M.
Awalnya, masjid tersebut direncanakan bernama Al-Manar atau Masjid Al-Aqsha, merujuk pada masjid yang ada di Yerusalem. Selain dikenal sebagai Baitul Maqdis, kota itu juga disebut Al-Quds yang berarti suci. Dari istilah inilah kemudian lahir nama “Kudus” yang digunakan hingga sekarang. Sebelum dikenal dengan nama tersebut, wilayah itu sempat disebut sebagai Kota Tajug, merujuk pada banyaknya bangunan beratap tradisional kuno yang dianggap sakral. Karena keterkaitannya yang kuat dengan Yerusalem, Kudus pun kerap dijuluki sebagai “Yerusalem van Java”.
Dari sanalah, istilah Al-Quds diduga dibawa dan kemudian digunakan sebagai inspirasi penamaan wilayah Kudus.
Selain itu, nilai-nilai toleransi yang diajarkan Sunan Kudus juga menjadi bagian penting dari identitas daerah tersebut. Salah satu buktinya adalah pendekatan budaya dalam berdakwah, seperti larangan menyembelih sapi sebagai bentuk penghormatan terhadap masyarakat Hindu saat itu. Warisan nilai ini masih terasa hingga kini dalam kehidupan masyarakat Kudus yang dikenal religius dan harmonis.
Nama Kudus tidak hanya sekadar identitas wilayah, tetapi juga mencerminkan filosofi dan harapan akan kehidupan yang suci, damai, dan penuh nilai spiritual. Seiring perkembangan zaman, Kudus tumbuh menjadi salah satu daerah penting di Jawa Tengah, baik dari sisi ekonomi maupun budaya, tanpa meninggalkan akar sejarahnya.
Dengan latar belakang tersebut, tidak heran jika Kudus kerap disebut sebagai Kota Religi, yang merepresentasikan perpaduan antara sejarah Islam, kearifan lokal, dan semangat toleransi yang diwariskan sejak masa lampau.
Selain aspek penamaan, Sunan Kudus juga meninggalkan jejak peradaban yang kuat di daerah Kudus. Salah satu peninggalan bersejarah yang masih berdiri kokoh hingga saat ini adalah Masjid Menara Kudus, yang diperkirakan dibangun pada abad ke-16. Keunikan masjid ini terletak pada arsitekturnya yang memadukan unsur Islam dengan budaya lokal Hindu-Buddha, terlihat dari bentuk menaranya yang menyerupai candi.
Dengan latar belakang sejarah yang kuat dan perkembangan modern yang pesat, nama “Kudus” tidak hanya menjadi simbol geografis, tetapi juga mencerminkan nilai spiritual, toleransi, dan kemajuan. Terinspirasi dari Al-Quds di Yerusalem, Kudus menjadi contoh bagaimana warisan sejarah global dapat bertransformasi menjadi identitas lokal yang kaya makna dan relevan hingga saat ini. (*)








