KUDUS, Kaifanews — Sumur yang biasanya menjadi sumber air sehari-hari warga Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, mulai tak lagi bisa diandalkan. Kemarau yang berlangsung sejak awal Agustus membuat sumber air dalam tanah terus menipis.
Kondisi itu dirasakan warga RT 04/RW 01 Desa Setrokalangan, Aziz. Dalam dua pekan terakhir, pompa air di rumahnya mulai tidak berfungsi normal karena sumur semakin mengering.
“Kekurangan sudah ada dua mingguan. Sehari-hari kalau ada sanyo malam, kalau pagi dan sore mati. Jadi sumur-sumur pada kering semua,” ujar Aziz.
Kini, kebutuhan air keluarganya sebagian dipenuhi dari toren penampungan yang tersebar di sejumlah titik desa. Dalam sehari, ia bisa mengambil sekitar 12 ember air, terutama pada pagi dan sore.
Bagi Aziz, pasokan tersebut cukup membantu untuk kebutuhan dasar, termasuk mandi dan memasak.
“Kebutuhan sehari-hari nunggu bantuan. Alhamdulillah ada bantuan untuk mandi, untuk masak alhamdulillah bisa lancar. Setiap hari sekitar 12 ember, pagi dan sore ambil di toren,” katanya.
Kondisi seperti itu dialami sejumlah warga Setrokalangan. Sedikitnya terdapat 16 titik toren yang disiapkan untuk membantu pemenuhan kebutuhan air masyarakat. Kapasitasnya bervariasi, mulai sekitar 2.000 hingga 5.200 liter, dengan sebagian besar berkapasitas sekitar 5.000 liter.
Di tengah kondisi tersebut, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Muria Raya turut mengirimkan bantuan air bersih sebanyak 20 ribu liter, Selasa, 22 September 2026.
Air tersebut tidak dibagikan langsung dari kendaraan kepada warga, melainkan digunakan untuk mengisi toren yang telah tersedia di sejumlah titik. Dengan pola itu, warga dapat mengambil air dari penampungan yang lokasinya lebih dekat dengan tempat tinggal mereka.
Ketua IJTI Korda Muria Raya, Iwhan Mifthakhudin, mengatakan bantuan tersebut merupakan bagian dari kegiatan bakti sosial untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan.
“Alhamdulillah untuk hari ini kami dari IJTI Korda Muria Raya kembali melaksanakan kegiatan bakti sosial membagikan air bersih. Sebelumnya kita membagikan di Demak, Grobogan, dan Pati. Kali ini kita di Kabupaten Kudus dengan total membawa 20 ribu liter air,” ujarnya.
Kegiatan tersebut turut melibatkan PT Pura dan PT Djarum serta menjadi bagian dari momentum Hari Jadi ke-477 Kabupaten Kudus.
Iwhan berharap bantuan itu setidaknya dapat mengurangi beban warga selama sumber air belum kembali normal. Ia juga berharap hujan segera turun sehingga masyarakat tidak terus bergantung pada pasokan air bantuan.
“Kegiatan ini kami harapkan bisa sedikit membantu warga masyarakat sehingga mereka bisa memanfaatkan air yang kami bawa. Kami juga berharap kemarau ini tidak berkepanjangan sehingga masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti biasa,” katanya.
Sementara itu, Kepala Desa Setrokalangan Didik Handono mengatakan wilayah yang terdampak kekeringan terus bertambah. Sumur dalam yang selama ini menjadi sumber air warga mulai kehilangan debit air.
“Kondisi kekeringan di desa ini memang belum ada hujan atau kemarau yang panjang. Intinya yang terdampak ini bertambah dari hari ke hari. Itu dikarenakan sumber air warga dari sumur dalam memang sudah tidak ada,” ungkapnya.
Menurut Didik, sebagian warga kini mengandalkan bantuan air dari pemerintah desa maupun pihak lain. Pemdes juga berupaya mencari sumber air baru, termasuk rencana pengeboran sumur yang akan dilakukan dengan dukungan Polres.
Untuk sementara, toren-toren yang tersebar di desa menjadi salah satu tumpuan warga. Setiap pasokan air yang datang pun langsung diarahkan ke titik-titik penampungan tersebut agar dapat digunakan secara bergantian oleh masyarakat. (*)









