KUDUS, Kaifanews – Jalur Pantura Kudus–Pati berubah menjadi kubangan air dan menyebabkan kemacetan panjang. Di wilayah Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, genangan setinggi lutut orang dewasa memaksa arus lalu lintas tersendat sejak Jumat (9/1/2026) hingga Senin (12/1/2026).
Air yang menutup sebagian badan jalan membuat kendaraan hanya bisa melaju merayap. Sejumlah pengendara memilih putar balik, sementara sebagian lainnya nekat menerobos genangan dan akhirnya harus pasrah ketika mesin mati di tengah arus banjir. Situasi ini memicu kemacetan panjang di salah satu jalur penghubung utama Pantura Jawa Tengah tersebut.
Warga menyebut antrean kendaraan mulai mengular sejak sekitar pukul 02.00 WIB. Penyempitan jalur akibat genangan membuat arus dari dua arah tersumbat. Bagi masyarakat setempat, pemandangan ini bukan hal baru. Setiap hujan deras turun, titik ini nyaris selalu menjadi langganan banjir.
Selain air, tumpukan sampah dan ranting pohon terlihat menyumbat aliran sungai di sekitar jembatan. Tanpa menunggu bantuan, warga turun tangan membersihkan sumbatan dengan alat seadanya demi mempercepat surutnya genangan.
Masum, warga Ngembalrejo, mengatakan banjir sudah tiga kali terjadi dalam tiga hari terakhir.
“Dari Jumat sampai hari ini sudah tiga kali. Tapi yang paling parah ya hari ini,” ujarnya.
Ia menuturkan, pada dua kejadian sebelumnya air belum sampai meluap ke jembatan. Kali ini, hampir seluruh permukaan jalan terendam.
Menurutnya, desain jembatan lama yang masih berupa terowongan dengan lubang-lubang aliran air menjadi salah satu biang masalah. Ketika debit sungai meningkat, lubang-lubang tersebut tak sanggup menampung volume air sehingga terjadi penyumbatan dan luapan.
“Semoga pemerintah ada solusi permanen. Kalau bisa jembatan ini diperbaiki atau dibangun ulang supaya aliran air lebih lancar,” harapnya.
Warga juga mendesak adanya normalisasi sungai dan penataan infrastruktur agar jalur vital Kudus–Pati tidak terus-menerus menjadi korban setiap musim hujan datang.








