KUDUS, Kaifanews – Wayang Klithik Wonosoco, seni pedalangan kayu yang telah hidup ratusan tahun di Desa Wonosoco, Kabupaten Kudus, kini berada di ujung tanduk. Tradisi yang selama ini menyatu dengan ritual desa tersebut hanya menyisakan satu dalang aktif, Ki Sutikno, generasi kedelapan sekaligus penjaga terakhir Wayang Klithik Wonosoco. Menyempitnya ruang hidup kesenian ini mendorong lahirnya program budaya bertajuk Sang Dalang Terakhir.
Program tersebut dirancang sebagai upaya penyelamatan Wayang Klithik melalui dokumentasi film, pementasan terbuka, serta aktivitas edukatif yang melibatkan masyarakat. Inisiatif ini memperoleh dukungan Dana Indonesiana dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), sebagai bentuk perhatian negara terhadap tradisi yang terancam putus regenerasi.
Penggagas program, Bustomy Rifa Aljauhari, menegaskan bahwa Wayang Klithik tidak cukup diselamatkan hanya sebagai arsip atau benda kajian akademik. Menurutnya, kesenian ini merupakan ruang hidup yang memuat pengetahuan tentang hubungan manusia, alam, dan spiritualitas Jawa.
“Wayang Klithik Wonosoco tak bisa dilepaskan dari ritual merti sumber dan sejarah pelestarian mata air di kawasan Pegunungan Kendeng Utara,” ujarnya saat ditemui pada Selasa, 6 Januari 2026.
Berbeda dengan wayang pada umumnya, lakon Wayang Klithik Wonosoco tidak bersumber dari epos Mahabharata atau Ramayana. Cerita-ceritanya diambil dari babad tanah Jawa, yang memuat kisah sejarah lokal, konflik kekuasaan, hingga pesan moral yang relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini. Puncak rangkaian program Sang Dalang Terakhir dijadwalkan berupa pementasan Wayang Klithik Wonosoco pada 10 Januari 2026 di Wates, Desa Wonosoco. Pementasan ini akan menghadirkan lakon baru yang dirancang sebagai dialog antara tradisi leluhur dan realitas zaman modern.
“Kehadiran masyarakat menjadi penanda penting bahwa Wayang Klithik masih memiliki tempat di tengah perubahan sosial yang terus bergerak,” kata Bustomy.
Di sisi lain, Ki Sutikno mengaku kekhawatirannya bukan hanya soal ketiadaan penerus dalang, tetapi juga hilangnya makna Wayang Klithik sebagai suara leluhur desa. Tanpa keberlanjutan praktik, kesenian ini dikhawatirkan berhenti sebagai artefak mati tanpa ruh.
“Wayang Klithik bukan sekadar tontonan. Di dalamnya ada doa, nilai, dan sejarah desa. Kalau tidak diwariskan, semuanya bisa lenyap,” tuturnya.
Dukungan terhadap upaya pelestarian juga disampaikan Bupati Kudus Sam’ani Intakoris. Ia menyatakan komitmen pemerintah daerah untuk menjaga keberlangsungan Wayang Klithik.
“Kita harus terus mendorong lahirnya generasi penerus, baik sebagai dalang maupun dokumentator tradisi,” harapnya.
Selain regenerasi, pemerintah daerah juga menaruh perhatian pada aspek pelindungan fisik warisan budaya.
Sam’ani menekankan pentingnya penyediaan ruang penyimpanan yang layak bagi wayang klithik asli berusia ratusan tahun agar tetap terjaga sebagai bagian dari identitas budaya Kudus.








