PATI — Upaya membangun solidaritas sosial berbasis keagamaan mulai digerakkan di Kabupaten Pati. Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Pati resmi meluncurkan Gerakan Investasi Wakaf Uang (Giwang), sebuah inisiatif yang membuka ruang partisipasi publik dalam pengentasan kemiskinan melalui wakaf berbentuk uang tunai.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Peluncuran Giwang berlangsung di Aula Kantor Kemenag Pati dan disaksikan sejumlah pejabat lintas instansi, tokoh agama, serta pemangku kepentingan. Pelaksana Tugas Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, turut hadir dan menyatakan dukungan penuh terhadap gerakan tersebut.

Menurut Chandra, langkah yang diambil Kemenag Pati patut diapresiasi karena dinilai progresif dan mampu mengubah cara pandang masyarakat tentang wakaf.

“Selama ini wakaf sering dipahami harus berupa tanah atau aset besar. Padahal dengan uang receh pun sudah bisa berwakaf. Ini terobosan yang sangat relevan,” ujarnya.

Ia menyebut Kemenag Pati sebagai salah satu instansi yang berani menjadi pionir penerapan wakaf uang secara sistematis. Pemerintah Kabupaten Pati, kata Chandra, siap meniru dan mengembangkan model serupa di lingkungan birokrasi maupun dunia pendidikan.

Dalam kesempatan itu, Chandra juga menyinggung kondisi daerah yang masih terdampak banjir sejak awal Januari. Status tanggap darurat bencana, lanjutnya, telah diperpanjang hingga awal Februari.

“Situasi ini mengingatkan kita bahwa solidaritas sosial sangat dibutuhkan. Gerakan seperti wakaf uang ini bisa menjadi bagian dari solusi membantu masyarakat yang terdampak,” katanya.

Sementara itu, Kepala Kemenag Pati Ahmad Syaikhu menuturkan bahwa GIWANG dirancang sebagai respon atas persoalan kemiskinan yang masih membayangi Kabupaten Pati. Saat ini, angka kemiskinan di wilayah tersebut berada di kisaran 9,8 persen atau sekitar 105 ribu penduduk.

“Persoalan kemiskinan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Diperlukan gerakan bersama yang melibatkan masyarakat luas,” tegas Syaikhu.

Ia menjelaskan, wakaf uang dipilih karena sifatnya yang fleksibel, mudah diakses, dan berkelanjutan. Siapa pun dapat berpartisipasi tanpa harus menunggu kondisi mapan.

“Tidak perlu kaya. Seribu atau dua ribu rupiah pun sudah bernilai wakaf. Ini investasi akhirat yang pahalanya terus mengalir,” ujarnya.

Untuk mendorong partisipasi, GIWANG mengusung pendekatan sederhana dengan slogan “DRS BEJO, Dua Ribu Saja Sebelum Kerjo”, yang menyasar kebiasaan wakaf harian di kalangan pegawai, pelajar, dan masyarakat umum.

Syaikhu juga memaparkan potensi besar wakaf uang di lingkungan Kemenag Pati. Dengan jumlah pegawai, guru, siswa madrasah, serta jaringan pondok pesantren yang luas, dana wakaf yang terkumpul diperkirakan dapat mencapai miliaran rupiah setiap tahun.

Pengelolaan dana tersebut akan dilakukan secara profesional melalui kerja sama dengan Bank Muamalat dan Baitulmaal Muamalat, sementara penyalurannya mengacu pada data penerima manfaat dari Dinas Sosial Kabupaten Pati.

Melalui GIWANG, Kemenag Pati berharap wakaf uang tidak sekadar menjadi ritual ibadah, tetapi berkembang menjadi instrumen sosial yang nyata dalam memperkuat kepedulian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.