JAKARTA, Kaifanews – Dinamika internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kini memasuki babak baru yang krusial. Nama Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, Kiai Abdussalam Shohib atau yang akrab disapa Gus Salam, secara mengejutkan mencuat ke permukaan sebagai kandidat kuat Ketua Umum PBNU untuk menggantikan Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya). Kemunculan nama cucu pendiri NU ini dianggap oleh banyak pihak sebagai solusi atas kemelut berkepanjangan yang tengah melanda organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Gus Salam dinilai sebagai figur yang tepat untuk melakukan rekonsiliasi internal. Sebagai keturunan langsung dari rahim pendiri NU, ia dianggap memiliki legitimasi moral dan spiritual yang kuat untuk menyatukan kembali berbagai faksi yang sempat bersitegang terkait arah kebijakan organisasi ke depan.

KH Abdussalam Shohib bukanlah orang baru di lingkungan nahdliyin. Berikut adalah profil singkat beliau:

Mencuatnya nama Gus Salam didorong oleh kondisi objektif di lapangan yang menginginkan adanya perubahan gaya kepemimpinan di PBNU:

  1. Aspirasi Akar Rumput: Banyak pengurus di tingkat cabang (PCNU) dan wilayah (PWNU) yang mulai menyuarakan perlunya sosok yang bisa “mendinginkan” suasana pasca-kontestasi politik dan dinamika internal yang memanas.

  2. Krisis Kepemimpinan: Kemelut di PBNU saat ini dinilai membutuhkan pemimpin yang memiliki kemandirian sikap serta tidak terjebak dalam kepentingan politik praktis tertentu.

  3. Dukungan Kiai Sepuh: Beberapa simpul kekuatan di Jawa Timur, yang merupakan basis terbesar NU, mulai melirik figur muda dari garis dzurriyah (keturunan) pendiri untuk mengembalikan NU ke khittah-nya.

Kemunculan figur Gus Salam dianggap sebagai jawaban atas kebuntuan kepemimpinan yang saat ini sedang melanda organisasi Islam terbesar di dunia tersebut. Hal ini ditegaskan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Ma’hadul Ilmi Asy Syar’ie (MIS) Sarang, Rembang, Kiai Imam Baehaqi, yang menilai bahwa PBNU membutuhkan sosok baru untuk membawa keluar organisasi dari kemelut yang berkepanjangan.

“Hingga saat ini, kemelut yang membelit PBNU belum tampak ujung jalan keluar. Gus Yahya, Ketua Umum yang diberhentikan Syuriyah PBNU dan Rais Aam, KH Miftachul Akhyar,” ujar Kiai Imam Baehaqi.

‘’Namun, sampai saat ini belum ada kemajuan signifikan, makanya kita butuh figure baru untuk memimpin PBNU, yakni Gus Salam,” lanjutnya.

Menurut Kiai Imam, konsisten terhadap komitmen moral tersebut menjadi parameter untuk menilai orientasi khidmat keduanya. Namun, kedua pihak bersama kelompoknya belum terlihat maju untuk menjalankan solusi bersama. Maka dari itu, yang dirugikan adalah NU secara jam’iyyah dan Nahdliyyin sebagai warga anggota beserta kekuatan penopang NU, yakni entitas pondok pesantren.