KUDUS – Suasana di SD 1 Burikan, Kecamatan Kota, mendadak heboh setelah beredar kabar dugaan percobaan penculikan terhadap dua siswanya. Peristiwa yang terjadi pada Selasa (28/11) dan Sabtu (8/11) 2025 itu sempat membuat para guru dan orang tua murid merasa khawatir.
Kepala Sekolah SD 1 Burikan, Ariyani Wijayanti, menjelaskan, dua siswa kelas III mengaku sempat didatangi orang tak dikenal saat jam pulang sekolah. Pelaku mencoba membujuk korban dengan alasan disuruh menjemput sang ibu.
“Orangnya bilang, ‘ayo pulang, disuruh jemput mamah’. Tapi anak-anak itu menolak dan tidak mau ikut,” ujar Ariyani.
Menurut Ariyani, dalam salah satu kejadian, siswa sempat diikuti oleh orang mencurigakan dari belakang. Namun ketika disapa warga sekitar, orang tersebut langsung berbalik arah.
“Anaknya tetap jalan sendiri. Begitu ada tetangga yang nyapa, orang tak dikenal itu langsung berhenti dan pergi,” tambahnya.
Insiden serupa kembali terjadi beberapa hari kemudian terhadap siswa lain. Kali ini, dua pria berboncengan motor diduga membuntuti korban.
“Yang kedua malah dua orang laki-laki datang berboncengan. Setelah itu, saya langsung umumkan di grup wali murid agar semua orang tua menjemput anaknya, meski rumahnya dekat,” jelas Ariyani.
Menanggapi kejadian tersebut, pihak sekolah segera melapor ke Babinsa dan Polsek Kota Kudus, serta meminta agar rekaman CCTV di sekitar lokasi diperiksa.
“Kami sudah lapor ke Babinsa dan Polsek. Saya juga minta tolong dicek CCTV karena bukan wewenang sekolah untuk melakukannya sendiri,” tuturnya.
Hal senada disampaikan Kepala Desa Rendeng, Mohammad Yusuf, yang mengaku juga mendapat laporan dari warga. Ia mengatakan, kabar dugaan percobaan penculikan itu ramai diperbincangkan di grup WhatsApp para orang tua murid.
“Saya sudah imbau warga agar menjemput anak-anaknya langsung. Jangan dulu biarkan mereka pulang sendirian sampai situasi benar-benar aman,” kata Yusuf.
Sementara itu, Kapolsek Kota Kudus AKP Subkhan menegaskan pihaknya masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait informasi tersebut.
“Kami harap masyarakat tidak langsung menganggap ini fakta. Isu seperti ini sering membesar padahal belum terbukti,” ujarnya.
Menurut Subkhan, pihak kepolisian telah memeriksa sejumlah saksi dan meninjau rekaman CCTV di sekitar lokasi, namun belum menemukan bukti kuat adanya tindak pidana penculikan.
“Dari hasil penyelidikan di lapangan, kami belum bisa menyimpulkan bahwa ini tindak pidana penculikan,” tegasnya.
Ia mengimbau masyarakat tetap waspada tanpa perlu panik, serta mendorong pihak sekolah untuk memperkuat prosedur pengawasan siswa.
“Kalau ada informasi semacam ini, jangan langsung diterima mentah. Dalami dulu, dan buat SOP penjemputan agar lebih aman,” tandasnya.
Sebagai langkah antisipasi, pihak sekolah kini memperketat pengawasan saat jam pulang dan mewajibkan orang tua menjemput anak secara langsung. (Mr)








