Kaifanews: WILAYAH Muria dan Pantura Jawa Tengah dikenal sebagai kawasan rawan banjir, rob, tanah longsor, dan cuaca ekstrem. Kombinasi curah hujan tinggi di lereng Gunung Muria serta kondisi dataran rendah di pesisir Pantura membuat sekolah-sekolah di wilayah ini berada dalam risiko tinggi setiap musim hujan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Muria–Pantura Termasuk Zona Rawan Bencana

Berdasarkan data BNPB, sepanjang satu tahun terakhir bencana hidrometeorologi mendominasi kejadian di Jawa Tengah, dengan banjir dan cuaca ekstrem sebagai penyumbang terbesar. Di kawasan Muria–Pantura (meliputi Kudus, Jepara, Pati, Demak, dan Rembang):

  • Lebih dari 70 persen kejadian bencana berupa banjir dan cuaca ekstrem
  • Puluhan sekolah terdampak banjir setiap musim hujan
  • Genangan air rata-rata mencapai 20–50 sentimeter, bahkan lebih di daerah cekungan dan sekitar sungai
  • Lereng Gunung Muria mencatat puluhan titik longsor saat curah hujan tinggi

BPBD di wilayah Muria mencatat, banjir kerap dipicu luapan sungai besar seperti Sungai Wulan, Juwana, Gelis, dan Dawe, sementara longsor banyak terjadi di wilayah Dawe, Tlogowungu, dan kawasan perbukitan Muria.

Sekolah di Pantura Rentan Banjir dan Rob

Wilayah Pantura seperti Demak, Pati bagian utara, dan Jepara pesisir juga menghadapi ancaman banjir rob dan limpasan air laut. Kondisi ini memperparah genangan saat hujan bersamaan dengan pasang laut.

Menurut BPBD setempat, beberapa sekolah di kawasan Pantura:

  • Mengalami genangan berulang setiap tahun
  • Terpaksa menghentikan KBM selama 2–7 hari
  • Beralih ke pembelajaran daring saat kondisi darurat
  • Dampak Langsung pada Kegiatan Belajar

Dinas Pendidikan di wilayah Muria–Pantura mencatat, setiap kejadian banjir besar:

  • Ratusan hingga ribuan siswa terdampak
  • Puluhan ruang kelas terendam lumpur
  • Perangkat elektronik dan buku pelajaran rusak
  • Aktivitas belajar dialihkan ke sistem daring atau penugasan mandiri

“Sekolah di wilayah rawan harus memiliki fleksibilitas pembelajaran dan rencana darurat yang jelas,” ujar pejabat Dinas Pendidikan daerah Muria.

Strategi Sekolah Aman Bencana di Muria–Pantura

1. Adaptasi Infrastruktur Sekolah
Sekolah di dataran rendah disarankan:

  • Meninggikan lantai ruang kelas
  • Menempatkan ruang arsip dan listrik di area lebih tinggi
  • Memperbaiki drainase internal sekolah

2. Kesiapsiagaan Longsor di Lereng Muria
Sekolah di wilayah perbukitan perlu:

  • Menghindari aktivitas luar ruangan saat hujan lebat
  • Memasang penahan tanah sederhana
  • Menyiapkan jalur evakuasi alternatif

3. Sistem Peringatan Dini Lokal
Koordinasi dengan desa dan BPBD penting untuk memperoleh:

  • Informasi prakiraan cuaca ekstrem
  • Peringatan dini banjir dan longsor
  • Rekomendasi penghentian sementara KBM
  • Edukasi Kebencanaan Berbasis Lokal

BNPB menekankan, edukasi kebencanaan berbasis kearifan lokal efektif meningkatkan kesiapsiagaan siswa. Di Muria–Pantura, materi edukasi dapat disesuaikan dengan:

  • Ancaman banjir sungai
  • Rob dan pasang laut
  • Longsor lereng Muria

Simulasi evakuasi banjir dan longsor minimal dilakukan dua kali setahun, terutama menjelang puncak musim hujan.

Dengan karakteristik wilayah Muria–Pantura yang rawan banjir dan cuaca ekstrem, sekolah harus menjadi ruang aman yang adaptif terhadap bencana.
Dukungan data, kesiapsiagaan infrastruktur, dan edukasi kebencanaan akan membantu melindungi siswa sekaligus menjaga keberlangsungan pendidikan di tengah ancaman alam yang terus berulang.