KUDUS, Kaifanews – Suasana SMAN 2 Kudus mendadak berubah mencekam pada Kamis (29/1). Sejak pagi, sirine ambulans silih berganti terdengar di lingkungan sekolah menyusul banyaknya siswa yang mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) sehari sebelumnya.
Pantauan di lokasi sekitar pukul 10.00 WIB, puluhan ambulans keluar-masuk area sekolah untuk mengevakuasi siswa ke sejumlah rumah sakit di Kabupaten Kudus. Sejumlah siswa tampak terbaring lemah, sebagian harus digotong dan ditandu oleh petugas serta guru menuju kendaraan medis. Di sekitar ruang UKS, siswa lain berkerumun menunggu giliran pemeriksaan.
Situasi semakin panik ketika beberapa ambulans yang baru tiba sempat mengalami selip ban di lapangan sekolah. Siswa dan warga yang berada di lokasi pun bergotong royong mendorong ambulans agar bisa kembali melaju.
Gangguan kesehatan yang dialami siswa cukup beragam, mulai dari tubuh terasa lemas, mual, pusing, diare, hingga sesak napas. Bahkan, dilaporkan satu hingga dua siswa sempat kehilangan kesadaran dan memerlukan penanganan intensif.
Wakil Kepala SMAN 2 Kudus bidang Humas, Dwiyana, mengungkapkan bahwa jumlah siswa yang mengeluhkan gangguan kesehatan mencapai ratusan orang.
“Total yang merasakan keluhan sekitar 600 siswa. Hingga hari ini, sebanyak 118 siswa sudah dirujuk ke rumah sakit,” ujar Dwiyana.
Ia menjelaskan, gejala tidak langsung muncul saat makanan MBG dikonsumsi pada Rabu (28/1) siang. Keluhan baru dirasakan beberapa jam kemudian, terutama pada malam hari.
“Waktu makan soto kemarin siang kondisinya masih normal. Keluhan justru muncul malam harinya,” jelasnya.
Menurutnya, laporan gangguan kesehatan semakin banyak diterima pihak sekolah pada Kamis pagi, baik dari siswa maupun tenaga pendidik. Beberapa guru juga mengalami diare, meski tidak sampai harus menjalani perawatan di rumah sakit.
“Tadi pagi antar guru saling bertanya, ternyata ada juga guru yang diare. Tapi tidak ada yang dirawat,” katanya.
Pihak sekolah kemudian melakukan pendataan di setiap kelas. Hasilnya, jumlah siswa terdampak berbeda-beda.
“Ada kelas dengan 35 siswa yang mengeluh, ada yang 17 siswa, ada juga sekitar 20 siswa. Datanya bervariasi,” ungkap Dwiyana.
Melihat kondisi tersebut, sekolah segera berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus serta puskesmas setempat. Puluhan ambulans dikerahkan untuk mempercepat proses evakuasi siswa ke rumah sakit.
Dwiyana juga menyampaikan bahwa pada hari sebelumnya, sekolah menerima 1.178 porsi MBG untuk siswa serta 98 porsi untuk guru dan tenaga kependidikan, dengan menu yang sama. Ia menegaskan, siswa yang tidak mengonsumsi MBG tidak mengalami gangguan kesehatan.
“Yang tidak makan MBG kemarin, tidak terdampak,” tegasnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Mustiko, membenarkan adanya laporan gangguan kesehatan yang dialami siswa sejak Kamis pagi.
“Keluhannya beragam, mulai dari pusing, muntah, diare, sampai sesak napas. Bahkan ada satu sampai dua siswa yang sempat pingsan,” jelasnya.
Ia memastikan seluruh siswa yang dirujuk telah mendapatkan penanganan medis di rumah sakit, sementara siswa dengan keluhan ringan ditangani di ruang UKS sekolah.
“Alhamdulillah semuanya sudah tertangani. Semoga segera pulih,” ujarnya.
Kesaksian datang dari Galang Arkana Farizki, siswa kelas X, yang mengaku mulai merasakan sakit perut dan pusing sejak pagi hari.
“Sejak pagi perut saya sakit dan pusing. Kemarin setelah makan masih biasa saja,” katanya.
Hal serupa diungkapkan Dewi Aryani, siswi kelas XII. Ia menyebut keluhan baru muncul beberapa jam setelah mengonsumsi MBG.
“Setelah makan sempat sakit perut, malamnya baru diare. Sekarang sudah agak reda, tapi masih lemas,” ujarnya.
Sementara itu, Travelina Trianova, siswi kelas XII lainnya, mengaku mengalami diare sejak malam hari.
“Semalam BAB sampai tiga kali. Awalnya saya kira biasa. Ternyata banyak yang mengalami. Menunya soto, ayamnya menurut saya agak bau,” tuturnya.
Hingga kini, pihak terkait masih melakukan pemantauan dan penanganan terhadap para siswa yang terdampak.








