JEPARA, Kaifanews — Situasi keamanan di Kabupaten Jepara sempat memanas hingga Jumat dini hari, 6 Maret 2026, setelah pertandingan antara Persijap Jepara melawan Persis Solo pada pekan ke-24 Super League di Stadion Gelora Bumi Kartini.
Kericuhan bermula dari dugaan aksi vandalisme yang terjadi di dalam stadion usai pertandingan. Beberapa fasilitas stadion dilaporkan mengalami kerusakan yang diduga dilakukan oleh oknum suporter tim tamu.
Berdasarkan rekaman video yang beredar di media sosial serta laporan warga, sejumlah kursi stadion terlihat dicabut dan dilempar. Insiden tersebut memicu kemarahan suporter tuan rumah yang merasa fasilitas kebanggaan kota mereka dirusak.
Ketegangan kemudian meluas hingga ke sejumlah ruas jalan utama di Jepara. Sejak malam hingga menjelang dini hari, ribuan suporter Persijap terlihat berkumpul di berbagai titik strategis kota, mulai dari kawasan Alun-alun 2 Jepara, Terminal Jepara, hingga persimpangan lampu merah Bangjo Gotri.
Kawasan yang biasanya menjadi pusat aktivitas masyarakat tersebut berubah menjadi titik konsentrasi massa. Arus lalu lintas sempat tersendat karena banyaknya suporter yang berkumpul di pinggir hingga tengah jalan.
Sejumlah saksi menyebutkan sebagian suporter berusaha memastikan rombongan pendukung tim tamu yang meninggalkan Jepara tidak melakukan provokasi lanjutan.
Kericuhan juga dilaporkan terjadi di beberapa jalur keluar kota. Berdasarkan video yang beredar luas di berbagai platform media sosial, beberapa kendaraan yang diduga membawa suporter tim tamu menjadi sasaran amuk massa.
Beberapa mobil tampak mengalami kerusakan cukup parah dengan kaca yang pecah, bahkan ada kendaraan yang terlihat terguling di tepi jalan setelah dikerumuni massa dalam jumlah besar.
Peristiwa tersebut diduga merupakan reaksi spontan atas insiden yang terjadi sebelumnya di dalam stadion. Meski demikian, hingga kini belum ada laporan resmi mengenai jumlah pasti kendaraan yang rusak maupun korban akibat kejadian tersebut.
Di beberapa titik seperti kawasan Alun-alun 2 Jepara dan Terminal Jepara, massa juga sempat melakukan penyisiran terhadap kendaraan yang melintas. Mereka berupaya memastikan tidak ada pihak yang dianggap bertanggung jawab atas kerusakan fasilitas stadion meninggalkan kota tanpa pertanggungjawaban.
Kapolres Jepara, AKBP Hadi Kristanto, menjelaskan bahwa kericuhan bermula dari gesekan antar suporter di dalam stadion yang dipicu aksi saling ejek.
“Ada gesekan awalnya dari saling kata-kata, kemudian mulai menggunakan gerakan-gerakan yang provokatif. Dari beberapa suporter Solo ada yang mencabut kursi dan melempar ke arah suporter Persijap,” ujarnya.
Ia menambahkan, situasi semakin tidak terkendali menjelang akhir pertandingan karena koordinator lapangan dari kedua kelompok suporter tidak lagi mampu meredam emosi massa.
“Sesaat setelah pertandingan selesai kami langsung masuk untuk memisahkan kedua pihak supaya tidak saling berhadapan,” katanya.
Polisi kemudian melakukan penertiban terhadap suporter tim tamu di dalam stadion. Beberapa di antaranya sempat diamankan sementara sebelum akhirnya dikawal meninggalkan wilayah Jepara.
Namun sebagian suporter tuan rumah tidak langsung membubarkan diri dan berkumpul di sepanjang jalan hingga ke kawasan Terminal Jepara yang menjadi titik berkumpul kendaraan rombongan suporter Persis.
Menurut Kapolres, sejumlah fasilitas publik mengalami kerusakan akibat kericuhan tersebut, mulai dari kursi yang dicabut, pot bunga yang dirusak, hingga beberapa kendaraan yang terdampak.
“Ada beberapa kerusakan kendaraan karena massa, kemudian beberapa fasilitas juga dicabut. Untuk laporan kerugian kami masih melakukan pendataan,” jelasnya.
Pihak kepolisian juga mengamankan beberapa orang yang diduga terlibat dalam insiden tersebut untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
“Ada beberapa yang kami amankan. Saat ini masih kami cek dan kumpulkan keterangan terkait keterlibatan mereka,” katanya.
Aparat kepolisian bersama unsur TNI kemudian melakukan pengamanan di sejumlah titik untuk mencegah eskalasi konflik yang lebih luas. Rombongan suporter Persis Solo dikawal keluar dari wilayah Jepara guna menghindari bentrokan lanjutan.








