AMSTERDAM, Kaifanews – Raksasa sepak bola Belanda, Ajax Amsterdam, resmi membuat kejutan di bursa transfer musim dingin dengan memulangkan kiper Timnas Indonesia, Maarten Paes, ke Eredivisie.
Pemain berusia 27 tahun tersebut diboyong dari klub MLS, FC Dallas, dengan nilai transfer yang tergolong ekonomis bagi standar Eropa, yakni sebesar €1,25 juta atau setara Rp21 miliar.
Namun, kedatangan Paes tidak sekadar mengisi pos di bawah mistar gawang De Godenzonen yang sedang dilanda krisis; transfer ini memicu perdebatan panas di kalangan suporter serta pakar sepak bola Belanda.
Sementara publik lokal mempertanyakan kembalinya pemain yang sempat dianggap “selesai” di Eropa, manajemen Ajax justru diprediksi tengah memainkan langkah catur strategis yang menggabungkan kebutuhan teknis dengan potensi ledakan ekonomi digital dari basis massa masif Indonesia.
Keputusan Ajax merekrut Paes muncul di tengah situasi darurat penjaga gawang yang melanda Johan Cruyff Arena. Performanya yang konsisten bersama FC Dallas dan aksi-aksi heroiknya mengawal gawang Timnas Indonesia di kualifikasi Piala Dunia rupanya cukup untuk meyakinkan tim pemandu bakat Ajax.
Meski demikian, pro-kontra tetap menyeruak di media-media Belanda seperti De Telegraaf, yang menyoroti apakah Paes adalah jawaban jangka panjang atau sekadar “tambal sulam” murah.
Namun, di balik perdebatan teknis tersebut, terdapat aspek yang jarang dibahas namun sangat vital: kekuatan komersial. Sejak menyandang status sebagai bintang utama Timnas Indonesia, Paes memiliki daya tarik digital yang luar biasa. Para analis pemasaran olahraga menyebut bahwa Ajax sedang membidik pasar Asia Tenggara.
“Nilai €1,25 juta mungkin terlihat kecil bagi Ajax, namun secara finansial, ini adalah investasi dengan risiko nol. Penjualan jersei resmi dan lonjakan engagement media sosial dari Indonesia diprediksi mampu menutupi biaya transfer tersebut hanya dalam hitungan bulan,” tulis laporan dari tvOneNews.
Bagi Paes, ini adalah ajang pembuktian bahwa dirinya telah bertransformasi menjadi kiper yang jauh lebih matang dibandingkan saat ia meninggalkan Utrecht beberapa tahun lalu.
Ia tidak lagi pulang sebagai “kiper pelapis”, melainkan sebagai ikon sepak bola dengan jutaan pengikut setia yang siap membela setiap langkahnya di Amsterdam.
Kini, tugas berat menanti Paes di lapangan hijau. Ia harus membuktikan kepada para pendukung Ajax yang skeptis bahwa ketangguhannya bukan sekadar gimik pemasaran, melainkan kualitas nyata seorang penjaga gawang yang siap mengembalikan kejayaan Ajax di kancah domestik maupun Eropa.








