KUDUS, Kaifanews – Mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) menghadirkan inovasi pendampingan lansia melalui program MURIACARE di Wisma Lansia Aisyiyah Kudus. Program yang dilaksanakan dalam rangka Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) tersebut menggabungkan aktivitas kognitif, pengelolaan emosi, seni, serta pengenalan budaya lokal Muria.
MURIACARE merupakan bagian dari program PKM-PM dengan judul “Mindfulness Cognitive Reconnection pada Equilibria Mentis dengan Budaya Muria sebagai Intervensi Parental Alienation di Wisma Lansia Aisyiyah Kudus”.
Tim MURIACARE terdiri atas Haifa Salsabila Efendi dari Program Studi Pendidikan Matematika sebagai ketua tim, Rizky Sukma Septiani dari Program Studi Pendidikan Matematika, Naina Adellia Putri dari Program Studi Psikologi, serta Farhan Sangaji dari Program Studi Teknik Informatika.
Dalam pelaksanaannya, tim menghadirkan sejumlah kegiatan pendampingan, di antaranya Puzzle Therapy, EMOCARE, dan Art Therapy. Melalui Puzzle Therapy, lansia diajak mengikuti permainan sederhana yang melatih konsentrasi dan kemampuan berpikir. Sementara EMOCARE menghadirkan kegiatan relaksasi sekaligus memberikan ruang bagi lansia untuk mengenali dan mengungkapkan perasaan.
Adapun Art Therapy dilakukan melalui kegiatan menggambar dan mewarnai. Aktivitas tersebut memberikan kesempatan kepada lansia untuk berekspresi, berkarya, serta berinteraksi dalam suasana yang menyenangkan.
Ketua Tim MURIACARE, Haifa Salsabila Efendi mengatakan, program tersebut dirancang tidak hanya untuk memberikan aktivitas kepada lansia, tetapi juga membangun pola pendampingan yang dapat dilanjutkan oleh mitra.
“Kami berharap MURIACARE tidak berhenti setelah program PKM-PM selesai. Melalui pendampingan pengetahuan dan keterampilan kepada mitra, kami ingin kegiatan yang telah diberikan dapat terus dilaksanakan secara mandiri dan menjadi bagian dari aktivitas rutin di Wisma Lansia Aisyiyah Kudus,” ujarnya.
Haifa menambahkan, unsur budaya Muria menjadi salah satu bagian penting dalam program tersebut. Menurutnya, budaya lokal dapat menjadi media yang dekat dengan kehidupan dan pengalaman lansia sehingga aktivitas pendampingan dapat terasa lebih relevan dan bermakna.
“Kami juga ingin memperkenalkan budaya Muria melalui kegiatan yang sederhana dan menyenangkan. Harapannya, budaya lokal tidak hanya menjadi materi pengenalan, tetapi dapat menjadi bagian dari aktivitas yang membangun interaksi, memori, dan rasa kebersamaan para lansia,” tambah Haifa.
Program MURIACARE juga mendorong terciptanya interaksi sosial melalui kegiatan kelompok. Para lansia diberikan ruang untuk berkomunikasi, berkarya, mengikuti aktivitas bersama, dan membangun keterlibatan dengan lingkungan sekitar.
Aspek keberlanjutan menjadi salah satu fokus program. Tim PKM-PM bersama mitra menyusun strategi agar kegiatan MURIACARE dapat terus dilaksanakan setelah program berakhir. Mitra juga mendapatkan pendampingan agar mampu memanfaatkan aplikasi MURIACARE, melakukan dokumentasi, serta melaksanakan monitoring dan evaluasi secara mandiri.
Melalui program tersebut, mahasiswa UMK berharap MURIACARE dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi lansia di Wisma Lansia Aisyiyah Kudus. Program ini sekaligus menjadi wujud kontribusi mahasiswa dalam menghadirkan inovasi berbasis sosial, pendidikan, pemberdayaan, teknologi, keberlanjutan, dan budaya lokal untuk mendukung kehidupan lansia yang lebih aktif dan bermakna.








