JAKARTA, Kaifanews – Memasuki minggu pertama Januari 2026, instrumen investasi emas kembali mencatatkan performa gemilang. Di tengah fluktuasi ekonomi global yang dipicu oleh ketidakpastian kebijakan moneter di akhir 2025, emas mengukuhkan posisinya sebagai aset pelindung nilai (safe haven) utama bagi investor ritel maupun institusi.
Data lapangan menunjukkan harga emas Antam di Indonesia telah menembus angka psikologis baru, yakni berkisar di angka Rp1.580.000 hingga Rp1.600.000 per gram (tergantung ukuran). Kenaikan ini didorong oleh tingginya permintaan domestik karena masyarakat mencari tempat aman untuk memarkir dana mereka di tengah ancaman inflasi yang diprediksi masih akan membayangi hingga kuartal kedua 2026.
Mengapa Emas Begitu Diminati di Tahun 2026?
Secara fundamental, emas memiliki karakteristik unik yang tidak dimiliki oleh aset digital atau saham. Berikut adalah tiga alasan utama mengapa emas menjadi primadona saat ini:
-
Kekebalan Terhadap Inflasi: Berbeda dengan uang tunai yang daya belinya tergerus kenaikan harga barang, nilai emas cenderung meningkat seiring dengan naiknya biaya hidup.
-
Likuiditas Tinggi: Emas adalah aset yang paling mudah dicairkan. Di Indonesia, jaringan toko emas, Pegadaian, hingga aplikasi investasi digital memungkinkan pemiliknya mendapatkan dana tunai dalam waktu kurang dari 24 jam.
-
Diversifikasi Risiko: Saat pasar saham atau kripto mengalami volatilitas tajam, emas seringkali bergerak berlawanan arah atau tetap stabil, sehingga melindungi portofolio investor dari kerugian total.
Panduan Memulai Bagi Pemula
Bagi Anda yang baru ingin terjun ke investasi logam mulia, berikut adalah langkah praktis yang dapat diambil:
-
Tentukan Tujuan: Apakah untuk dana pendidikan (jangka menengah) atau dana pensiun (jangka panjang)? Emas sangat efektif jika disimpan minimal 3 hingga 5 tahun.
-
Pilih Metode Penyimpanan: Anda bisa membeli emas fisik (batangan) dan menyimpannya di Safety Deposit Box (SDB), atau menggunakan fitur Tabungan Emas Digital yang sudah diawasi OJK mulai dari nominal Rp10.000.
-
Gunakan Strategi DCA (Dollar Cost Averaging): Jangan menunggu harga turun drastis. Belilah secara rutin setiap bulan dengan nominal yang sama untuk mendapatkan harga rata-rata yang optimal.
Tabel Estimasi Perbandingan Aset (Januari 2026)
| Jenis Aset | Profil Risiko | Likuiditas | Keunggulan Utama |
| Emas | Rendah – Menengah | Sangat Tinggi | Pelindung Nilai (Inflasi) |
| Saham Blue Chip | Tinggi | Tinggi | Dividen & Capital Gain |
| Deposito | Sangat Rendah | Sedang | Kepastian Bunga |
| Properti | Menengah | Rendah | Aset Fisik & Sewa |
Kesalahan umum pemula adalah terlalu lama memantau grafik harga hingga kehilangan momentum. Secara historis, harga emas selalu membentuk tren naik dalam jangka panjang. Analis finansial menyarankan porsi emas dalam portofolio idealnya berkisar antara 10% hingga 15%.
Dengan kondisi geopolitik yang masih dinamis di awal 2026, memegang emas bukan sekadar mencari keuntungan, melainkan membangun “sekoci penyelamat” bagi keuangan keluarga Anda.








