Kudus, Kaifanews.id — Di tengah gempuran jajanan modern yang serba kekinian, muncul sosok inspiratif dari Desa Mijen, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Ia adalah Tegar, seorang pelajar MA NU Ma’arif Kudus yang tak gengsi berjualan pentol kriwil, jajanan jadul yang kini kembali digemari masyarakat.
Dengan wajah masih remaja dan semangat yang membara, Tegar terlihat setiap sore mangkal di Lapangan Sepakbola Gelora Pemuda Mijen, menjajakan pentol kriwil hangat yang menggugah selera. Ia mulai berjualan sejak pukul 4 sore hingga dagangannya ludes — yang biasanya hanya butuh hitungan jam saja.
“Awalnya dulu hanya untuk mengisi liburan sekolah, tapi karena laris manis akhirnya saya putuskan jualan setiap hari setelah pulang sekolah,” ujar Tegar sambil tersenyum.
Menariknya, seluruh bahan jualan — mulai dari belanja, meracik, hingga membuat adonan pentol kriwil — disiapkan oleh sang ayah yang juga berprofesi sebagai pedagang bakso goreng dan telur gulung. Tegar hanya bertugas menjual, sambil belajar berinteraksi dengan pembeli dan mengatur hasil jualannya sendiri.
“Untuk jualannya semua disiapkan ayah saya, karena ayah juga jualan bakso goreng dan telur gulung. Saya tinggal jualan saja,” tuturnya dengan polos.
Meski masih duduk di kelas 1 Aliyah, Tegar sudah punya semangat kemandirian tinggi. Ia menolak gengsi, justru bangga bisa menghasilkan uang dari keringat sendiri.
“Saya berjualan bukan karena disuruh atau dipaksa, tapi karena ingin belajar mandiri. Kalau gengsi ya tidak, malah saya senang karena bisa dapat pengalaman dan penghasilan,” kata Tegar dengan nada mantap.
Rasa pentol kriwil racikan keluarga Tegar dikenal gurih dan kenyal, berpadu dengan bumbu kacang pedas manis yang menggoda. Tak heran jika banyak pembeli datang kembali untuk menikmati cita rasanya.
Salah satunya adalah Rizky, warga setempat yang mengaku ketagihan.
“Awalnya cuma coba-coba buat anak, eh malah saya sendiri yang ketagihan. Sekarang hampir tiap hari beli,” ujarnya sambil tertawa.
Fenomena jajanan jadul seperti pentol kriwil yang kembali digemari menunjukkan bahwa kuliner tradisional tetap punya tempat di hati masyarakat. Dan lewat tangan-tangan muda seperti Tegar, semangat melestarikan cita rasa lama terus menyala di tengah era modern.
Tegar adalah bukti bahwa kerja keras dan kemandirian tidak mengenal usia. Ia mungkin hanya penjual pentol kriwil di lapangan desa, tapi semangatnya adalah potret nyata pemuda yang tak takut berjuang, tak gengsi bekerja, dan bangga pada keringat sendiri.(kiq)








